DISKONQQ bandarq, aduq, dominoq, bandar sakong, judi capsa Judi Bola Judi Domino Poker ModalQQ Terpercaya Meja13 adalah situs judi online game capsa susun Menangqq Agen bandar judi Adu Q Bandar DominoQQ Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Perkasa99 Situs Bandar66 Terbaik NikmatQQ Situs BandarQ Terbesar
Musimqq Bandar Sakong Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Terpercaya

Bursa Cerita Sex: Pernikahan Yang Ternoda

Bursa Cerita Sex: Pernikahan Yang Ternoda - Hallo Semuanya, Kali ini Bursa Cerita Sex, akan mencoba memberikan cerita dewasa Bursa Cerita Sex: Pernikahan Yang Ternoda, Silahkan membaca dengan khusu biar Lendir lancar di buang hahahah...

Bursa Cerita Sex: Pernikahan Yang Ternoda
Judul Cerita : Bursa Cerita Sex: Pernikahan Yang Ternoda

lihat juga

Judi Bola Liga365

Bursa Cerita Sex: Pernikahan Yang Ternoda

Bursa Cerita Sex: Pernikahan Yang Ternoda
Bursa Cerita Sex: Pernikahan Yang Ternoda

Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tdk sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yg masih berusia 11 tahun yg sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya, setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan hati anak tersebut,

“Bob..” panggilku pelan sambil duduk di sampingnya,

“sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat”



Anak itu tetap menangis, beberapa detik dia memandangku dan tdk lama kemudian dia langsung memelukku dgn air mata yg bergelinang,



“tante, hiks…hiks… Boby ga mau sendirian, Boby mau mama, papa…” dgn penuh rasa kasih sayang aku mengelus punggungnya berharap dapat meringankan bebannya,

“tante… bangunin mama,” katanya sambil memukul pundakku, aku semakin tak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air matakupun ikut jatuh,

“Boby, jangan sedih lagi ya? Hhmm… kan masih ada tante sama om,” aku melihat ke belakang ke arah suamiku sambil memberikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dgn usulku,

“mulai sekarang Boby boleh tinggal bersama tante dan om, gi mana?” tawarku sambil memeluk erat kepalahnya,



Sebelum lebih jauh mohon izinkan aku untuk memperkenalkan diri, namaku Ratih umur 25 tahun aku menikah di usia muda karena kedua orang tuaku yg menginginkannya, kehidupan keluargaku sangatlah baik, baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi hubungan intim, tetapi seperti pepatah yg mengatakan tdk ada gading yg tak retak.



Begitu juga dgn hidupku walaupun aku memiliki suami yg sangat mencintaiku tetapi selama 4 tahun kami menikah kami belum juga dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami terasa ada yg kurang, tetapi untungnya aku memiki seorang suami yg tdk pernah mengeluh karena tdk sanggupnya aku memberikan anak untuknya.



Untuk membalas budi baik kakakku, aku dan suamiku memutuskan untuk merawat anaknya Boby karena kami pikir apa salah menganggap Boby sebagai anak sendiri dari pada aku dan suamiku harus mengangkat anak dari orang lain.



Sudah satu minggu Boby tinggal bersama kami, perlahan ia mulai terbiasa dgn kehidupannya yg baru, aku dan suamiku juga meresa sangat senang sekali karena semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suamiku semakin bersemangat saat bekerja dan sedangkan aku kini memiliki kesibukan baru yaitu merawat Boby,



“Bi…. tolong ambilin tasnya Boby dong di kamar saya,” kataku memanggil bi Mar.



Hari ini adalah hari pertama Boby bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres aku meminta pak Agung untuk mengantarkan Boby ke sekolahnya yg baru, beberapa saat Boby terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah.



Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, aku berencana menyiapkan makanan yg special untuk Boby sehingga aku memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur, tetapi saat aku melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Jarwo yg sedang melakukan hubungan intim dgn mba Watik, mereka yg tdk menyadari kehadiranku masih asyik dgn permainan mereka,



“Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tampak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tdk bermoral, memalukan sekali!”



Mereka tanpak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku melihat k0ntol pak Jarwo yg terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku sangat terkejut melihat ukuran k0ntol pak Jarwo yg besar dan berurat, berbeda sekali dgn suamiku,



“maafin kami Bu,” kini Watik membuka mulutnya, sedangkan pak Jarwo masih terdiam,

“Maaf… kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Jarwo itu sudah punya istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Jarwo, kamu itu cantik kenapa tdk mencari yg sebaya dgnmu?” emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Jarwo,

“saya tdk menyangka ternyata anda yg sangat saya hormati ternyata tdk lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku menggelengkan kepalahku, sambil menunjuk ke arahnya,

“maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Watik” kata pak Jarwo yg membela Watik,

“mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan pernah menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku.



Mendengar perkataanku Watik terlihat pucat tdk menyangkah kalau kelakuan pak Jarwo membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Jarwo terlihat tenang-tenang saja malahan pak Jarwo tanpak terseyum sinis,



“he..he… Ibu yakin dgn keputusan Ibu,” pak Jarwo tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Jarwo mendekatiku,

“jangan perna main-main dgn saya Bu,” ancamnya dgn sangat sigap pak Jarwo menangkap kedua tanganku,

“apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,” aku mencoba mengancam balik mereka yg sedang mencoba mengikat kedua tanganku,

“teriak saja Bu, tdk akan ada orang yg mendengar,” timpal Watik sambil membantu pak Jarwo mengikat kedua tanganku,



Apa yg di katakan Watik ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tdk mau menyerah begitu saja dgn susah payah aku berusaha melepaskan diri tp sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Jarwo.


Sesampainya di kamar aku di tidurkan di atas kasur yg tipis, sedangkan Watik mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.



“kalian biadab, tdk tau terimakasih ANJING kalian!” air mataku tdk dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Jarwo mulai merabahi pahaku yg putih,

“ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis,

“siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yg sial bagi Ibu,” semakin lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,

“tdk di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku,

“makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Watik yg menceramahiku,

“ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yg kuharapkan tdk terjadi, pak Jarwo tampak semakin buas memainkan diriku



Aku hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yg memang sudah tdk tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yg kasar mulai memainkan selangkanganku,



“sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Jarwo, sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yg mulai mengeras,

“ko’ memeknya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tdk dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tdk,

“wah…wahh… Ibukan sudah punya suami kok masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,” Watik melototiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi,

“dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Jarwo,”bentak Watik kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya,

“aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah jangan di terusin…” kataku dgn kaki yg tdk dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam memekku yg sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan memekku,

“oo… enak ya? he…he…” pak Jarwo tertawa melihatku yg sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Jarwo menjilati leherku yg jenjang,



Dengan sangat kasarnya pak Jarwo menarik celana dalamku, sehingga memekku yg tdk di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku memang sangat rajin mencukur rambut memekku agar terlihat lebih bersih dan seksi.



Watik berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan memekku yg kini sudah tdk ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Jarwo membuka bibir memekku sehingga bagian dalam memekku dapat di rekam jelas oleh Watik, beberapa kali jari telunjuk pak Jarwo menggesek clitorisku,



“ohk pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri,

“Ha…ha… malu kenapa Bu? Anjing aja tdk malu ga pake baju masa ibu malu si…” katanya yg semakin merendahkan derajatku.



Setelah puas mempertontonkan memekku di depan kamera, pak Jarwo bertukar posisi dgn Watik untuk memegangi kakiku sedangkan pak Jarwo berjongkok tepat di bawa memekku,
Dgn sangat lembut pak Jarwo menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran memekku,



“aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dgn sangat rakus pak Jarwo menjilati memekku yg berwarna pink, sedangkan Watik tampak puas melihat ke adaanku yg tak berdaya,

“nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tp ujung-ujungnya malah ketagihan” kata Watik tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku,



Semakin lama aku semakin tdk tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di aliri listrik dgn tegangan yg tinggi, kalau seandainya Watik tdk memegang kakiku dgn sangat erat mungkin saat ini wajah pak Jarwo sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dgn sangat hebat, cairan memekku meleleh keluar dari dalam memekku, sehingga tubuhku terasa lemas,



“ha…ha… bagaimana Bu, mau yg lebih enak….” pak Jarwo tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku karena aku sudah tdk mampu lagi untuk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Jarwo berdiri sambil memposisikan k0ntolnya tepat di depan memekku,

“aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala k0ntolnya menerobos liang memekku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yg amat sangat di memekku karena ukuran k0ntol pak Jarwo jauh lebih besar dari k0ntol suamiku,

“tahan Bu, bentar lagi juga enak kok“ kata Watik yg kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Watik kembali merekam adegan panas yg kulakukan,



Dgn sangat cepat pak Jarwo menyodok memekku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat k0ntolnya mentok ke dalam memekku yg mungil,



“aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar,

“oh yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memek Ibu masih sempit sekali walaupun sudah pernah menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku tdk merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri,



Aku merasa memekku seperti di masuki benda yg sangat besar yg mencoba mengorek isi dalam memekku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain aku merasa sangat menikmati perkosaan terhadap diriku, selama ini aku belum perna merasakan hal seperti ini dari suamiku sendiri,



“ayo sayang, bilang kalau kontol saya enak…” dgn sangat kasar pak Jarwo meremasi kedua payudaraku,

“ti-tdk…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya,

“ha..ha.. kamu mau jujur atau tdk, kalau tdk hhmm… saya akan adukan semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dgn tawa yg sangat menjijikan,

“ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena takut dgn ancamannya akhirnya aku menyerah juga

“iya, aahhkk… aku suka…” kataku dgn suara yg hampir tdk terdengar,

“APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak Jarwo berteriak dgn sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya,

“IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA KONTOL BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dgn sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu,



Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yg ke dua kalinya,
Dgn sangat kasarnya pak Jarwo menarik tubuhku sehingga aku berposisi menungging, pantatku yg bulat dan padat menghadap dirinya,



“hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku,

“pak, saya mohon cepat lakukan,”

“ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya,



Sebenarnya aku tdk menyangka dgn kata-kataku tadi bisa membuatku semakin rendah di mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tp sayangnya pak Jarwo tdk menginginkan itu,



“tenang Bu, santai saja dulu?”



Pak Jarwo sangat pintar memainkan tubuhku, dgn sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang,



“ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dgn gerakan yg sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku,

“ahhkk….ooo… ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak Jarwo semakin mempercepat gerakan jarinya,



Pak Jarwo dgn rakusnya kembali menjilati memekku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok anusku.
Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yg kuyakini itu adalah pak Agung yg baru pulang dari mengantar Boby,



“Pak Agung tolongin saya…” kataku berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yg ku alami.



Dengan santainya Watik membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Agung mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Agung tanpak kaget saat melihat keadaanku yg sedang di gagahi oleh pak Jarwo,



“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas,

“Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Agung menggelengkan kepalahnya dgn mata yg tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku,

“Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya,” pak Jarwo mulai membujuk pak Agung dan aku hanya bisa berharap pak Agung tdk memperdulikan tawaran pak Jarwo,

“kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi.

“jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Agung, tetapi pak Jarwo tdk mau kalah kedua jarinya membuka bibir memekku,

“bapak liat ni, memeknya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Agung terdiam seperti ada yg sedang di piirkannya,

“memeknya masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Jarwo berharap pak Agung mau bergabung denganya untuk menikmati tubuhku,



Akhirnya pak Agung tdk tahan melihat memekku yg becek terpampang di depannya,



“hhmm… oke lah tp bokongnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini aku sudah tdk tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Agung mendekatiku,

“sekarang Ibu dudukin kontol saya, cepat…” perintah pak Jarwo sambil tidur telentang dgn k0ntol yg mengancung ke atas, dgn sangat pelan aku menuduki k0ntol pak Jarwo,

“eennnggkk…. “ aku menggigit bibir bawahku saat kepala k0ntol pak Jarwo kembali menembus memekku, perlahan k0ntol itu amblas ke dalam memekku, dgn sangat erat pak Jarwo memeluk pinggangku agar tdk dapat bergerak,



Setelah melepas semua pakaian yg ada di tubuhnya, pak Agung mendekatiku dgn k0ntol berada di depan anusku beberapa kali pak Agung menamparkan k0ntolnya ke pantatku,



“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Agung mulai berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal meembus anusku yg memang masih perawan,

“ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak Jarwo mmemanas-manasi pak Agung agar segera membobol anusku, pak Agung yg mendengar perkataan pak Jarwo menjadi lebih beringas dari sebelumnya,

“AAAAAA….” aku berteriak sekencang-kencangnya saat k0ntol pa Agung berhasil menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan k0ntolnya semakin dalam,

“aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak Agung mulai memaju mundurkan k0ntolnya di dalam anusku,

“gi mana pak? Enak kan?” tanya pak Jarwo yg kini ikutan memaju mundurkan k0ntolnya di dalam memekku,

“eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami,



Sudah beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yg hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri.



Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak Jarwo menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dgn sekuat tenaga pak Jarwo semakin menenggelamkan k0ntolnya ke dalam memekku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku,



“aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Jarwo melepas k0ntolnya di dalam memekku begitu juga dgn pak Agung yg melepaskan k0ntolnya di dalam anusku,

“buka mulutmu cepetan,” perintah pak Agung sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah k0ntolnya yg terlihat berdeyut-deyut, aku sangat kaget sekali saat pak Agung memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Agung,



Kini aku benar-benar sudah tdk memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tampak puas memandangku yg sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua kakiku kembali dipegangi Watik, sperma yg tadi di muntahkan pak Jarwo terasa mengalir keluar dari dalam memekku,



Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Boby yg sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yg terjadi tadi pagi yg menimpa diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, aku tdk bisa membayangkan kalau sampai suamiku mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri,



“hhmm… gi mana Boby sudah negerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yg sedang sibuk menghitung soal yg di berikan suamiku,

“ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yg di sambut dgn teriakan mereka berdua,



Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Agung menarik tanganku,



“bapak apaan sih!?” bentakku dgn suara yg sangat pelan,

“ssstt… jangan berisik…” kata pak Agung dgn jari telunjuk di bibirnya,

“nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi sambil mencubit payudaraku, dgn sigap aku mundur ke belakang,

“jangan main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yg tdk tertutup rapat, tetapi pak Agung tdk kehabisan akal dia balik mengancamku dgn mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut,

“oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dgn suara yg bergetar, karena sudah tdk tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dgn permintaanya,

“maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dgn suara yg cukup jelas,
setelah berkata seperti itu pak Agung langsung memelukku dgn erat sehingga aku sulit bernafas,

“hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku

“pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya,



Pak Agung yg mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yg sedikit terbuka,



“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yg sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yg sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dgn telapak tanganku agar suara terikanku tdk terdengar oleh suami dan anakku,

“Pak ku mohon jangan di sini,” aku hanya bsia menurut saja saat pak Agung menyuruhku untuk menungging dgn tangan yg menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yg terbuka,

“tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yg berwarna hitam terpampang di depan matanya, dgn sangat kasar pak Agung meremas kedua buah pantatku yg padat sehingga aku tak tahan untuk tdk mendesah,

“aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak,” pak Agung diam saja tdk mendengar kata-kataku melainkan pak Agung semakin membuatku terangsang dgn mengelus belahan memekku dari belakang,

“kalau kamu tdk mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Agung sambil memukul pantatku

“ta-tp pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dgn suara yg sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”



Pak Agung seolah-olah tdk mau tahu, kini dgn rakusnya pak Agung menjilati memekku yg masih tertutup celana dalamku, sehingga aku merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi memekku pak Agung memintaku untuk membuka celana dalamku sendiri masih dgn posisi menungging.



Sangat sulit bagiku untuk melepaskan celana dalamku dgn posisi menungging belum lagi aku harus bekonsentrasi agar suaraku tdk keluar dgn keras walaupun pada akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut,



“hhuuu… mantab….” katanya sambil merabahi memekku dari belakang,

“kamu mau tahukan gimana rasanya ngentot di depan suamimu sendiri,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah suamiku yg sedang mengajari anaku Boby,

“pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dgn jari telunjuk pak Agung yg langsung memasuki memekku sehingga aku terpekik cukup keras,

“sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.

“aahkk… tdk pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar suamiku tdk curiga ke padaku, tetapi untungnya suamiku tdk melihat ke arahku,
dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Agung masih asyik mempermainkan memekku dari belakang,

“ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tdk percaya,

“apa perlu papa yg usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya aku masih banyak akal,

“aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yg di berikan pak Agung kepadaku, untungnya suamiku tdk curiga dgn suaraku,

“asyikan Bu, ngobrol dgn suami sambil di mainin memeknya,” aku memandangnya dgn wajah yg memerah karena nafsuku sudah di puncak,

“kok diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya aku langsung melotot ke arahnya,

“Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yg sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali terdiam,



Dgn sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku menyadari suaraku yg berubah menjadi desahan,


“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yg kini sedang diperkosa oleh pak Agung,
tanpa kusadari pak Agung sudah memposisikan k0ntolnya di depan bibir memekku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak Agung menghantamkan k0ntolnya dgn sangat keras ke dalam memekku,

“terserah mama saja… papa sama Boby ikut aja,”

“iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Boby,



Beberapa menit telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Agung memperkosaku walaupun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini,



“aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yg ku alami berganti dgn perselingkuhanku dgn pembantuku,

“ohhk… memek istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yg terus-terusan menggoyang k0ntolnya di dalam memekku,

“pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja



Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas aku dan pak Agung kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Agung pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yg tersungging di bibirnya.



Setelah membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dgn membawa minuman dan makanan kecil,



“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yg di gunakan Boby untuk belajar,

“makasi mama…” kata Boby yg langsung saja menyambar minuman yg baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat



Boby hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan,
Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dgn tatapan mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya,



“ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Boby yg sedang menulis, suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku,

“hhmm.. sayang kok kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti,

“bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku,

“kamu tadi kok lama ma,” kami terdiam beberapa saat,

“mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega,

“Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit k0ntol suamiku,



Setelah yakin Boby tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku tdk mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yg habis bercinta.


Demikianlah Artikel Bursa Cerita Sex: Pernikahan Yang Ternoda

Sekian Blog Lendir Bursa Cerita Sex: Pernikahan Yang Ternoda, Mudah-mudahan bisa membantu kalian yang sedang kesepian dan bisa menghantarkan tidur pulas hahhaha

Anda sedang membaca artikel Bursa Cerita Sex: Pernikahan Yang Ternoda dan artikel ini url permalinknya adalah http://www.bursaceritasex.com/2017/04/bursa-cerita-sex-pernikahan-yang-ternoda.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Tag : , , , , , ,

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Bursa Cerita Sex: Pernikahan Yang Ternoda"

Post a Comment