DISKONQQ bandarq, aduq, dominoq, bandar sakong, judi capsa Judi Bola Judi Domino Poker ModalQQ Terpercaya Meja13 adalah situs judi online game capsa susun Menangqq Agen bandar judi Adu Q Bandar DominoQQ Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Perkasa99 Situs Bandar66 Terbaik NikmatQQ Situs BandarQ Terbesar
Musimqq Bandar Sakong Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Terpercaya

Bursa Cerita Sex: Birahi Dosenku

Bursa Cerita Sex: Birahi Dosenku - Hallo Semuanya, Kali ini Bursa Cerita Sex, akan mencoba memberikan cerita dewasa Bursa Cerita Sex: Birahi Dosenku, Silahkan membaca dengan khusu biar Lendir lancar di buang hahahah...

Bursa Cerita Sex: Birahi Dosenku
Judul Cerita : Bursa Cerita Sex: Birahi Dosenku

lihat juga

Judi Bola Liga365

Bursa Cerita Sex: Birahi Dosenku

Bursa Cerita Sex: Birahi Dosenku
Bursa Cerita Sex: Birahi Dosenku

Kisahku ini terjadi bebrapa bulan yg lalu saat itu aku kuliah dan masih di semester 3 masa masanya saat UAN, dan seperti itulah masa masa yg mendebarkan dimana apakah bisa ikut ujian atau tdknya sebab ada yg kelebihan absen, administrasi belum lengkap, dan semua pemberitahuan tertera di papan pengumuman.

Hari itu diriku dibuat shock dgn tercantumnya namaku di daftar cekal salah satu mata kuliah penting, 3 SKS pula. Diriku sangat bingung disana tertulis absenku sdh empat kali, melebihi batas maksimum tiga kali, apakah diriku salah menghitung, padahal di agendaku setiap absenku kucatat dgn jelas diriku hanya tiga kali absen di mata kuliah itu.



Akupun complain masalah ini dgn dosen yg bersangkutan yaitu Pak Agus, seorang dosen yg cukup senior di kampusku, beliau berumur pertengahan 40-an, berkacamata dan sedikit beruban, tubuhnya pendek kalau dibanding dgnku hanya sampai sedagu.



Diajar olehnya memang enak dan mengerti namun beliau agak cunihin (bahasa sunda yang artinya genit), karena suka cari-cari kesempatan untuk mencolek atau bercanda dgn mahasiswi yg cantik pada jam kuliahnya termasuk jg diriku pernah menjadi korban kecunihinannya.



Karena sdh senior dan menjabat kepala jurusan, beliau diberi ruangan seluas 5×5 meter bersama dgn Bu Hany yg jg dosen senior merangkap wakil kepala jurusan. Kuketuk pintunya yg terbuka setelah seorang mahasiswa yg sedang bicara padanya pamitan.



“Siang Pak !” sapaku dgn senyum dipaksa

“Siang, ada perlu apa ?”

“Ini Pak, sy mau tanya tentang absen sy, kok bisa lebih padahal dicatatan sy cuma tiga…” demikian kujelaskan panjang lebar dan beliau mengangguk-anggukkan kepala mendengarnya.



Beberapa menit beliau meninggalkanku untuk ke TU melihat daftar absen lalu kembali lagi dgn map absen di tangannya.
Ternyata setelah usut punya usut, diriku tertinggal satu jadwal kuliah tambahan dan cerobohnya diriku jg lupa mencatatnya di agendaku. Dgn memohon belas kasih diriku memelas padanya supaya ada keringanan.



“Aduhh…tolong dong pak, soalnya gak ada yg memberitahu sy tentang yg tambahan itu, jadi sy jg gak tau pak, bukan salah sy semua doDiang pak”

“Tp kan dik, anda sendiri harusnya tahu kalau absen yg tiga sebelumnya anda bolos bukan karena sakit atau apa kan, seharusnya untuk berjaga-jaga anda tdk absen sebanyak itu dong dulu”



Beberapa saat diriku tawar menawar denganya namun ujung-ujungnya tetap harga mati, yaitu diriku tetap tdk boleh ujian dgn kata lain diriku tdk lulus di mata kuliah tersebut. Kata-kata terakhirnya sebelum diriku pamit hanyalah



“Ya sdh lah dik, sebaiknya anda ambil hikmahnya kejadian ini supaya memacu anda lebih rajin di kemudian hari” dgn meletakkan tangannya di bahuku.



Dengan lemas dan pucat diriku melangkah keluar dari situ dan hampir bertabrakan dgn Bu Hany yg menuju ke ruangan itu.
Dlm perjalanan pulang dimobil pun pikiranku masih kalut sampai mobil di belakangku mengklaksonku karena tdk memperhatikan lampu sdh hijau. Hari itu diriku habis 5 batang rokok, padahal sebelumnya jarang sekali diriku mengisapnya.



Diriku sdh susah-susah belajar dan mengerjakan tugas untuk mata kuliah ini, jg nilai UTS ku 8,8, tp semuanya sia-sia hanya karena ceroboh sedikit, yg ada sekarang hanyalah jengkel dan sesal. Sambil tiduran diriku memindah-mindahkan chanel parabola dgn remote, hingga sampailah diriku pada chanel TV dari Taiwan yg kebetulan sedang menaygkan film semi.



Terlintas di pikiranku sebuah cara gila, mengapa diriku tdk memanfaatkan sifat cunihinnya itu untuk menggodanya, diriku sendiri kan penggemar seks bebas. Cuma cara ini cukup besar taruhannya kalau tdk kena malah diriku yg malu, tp biarlah tdk ada salahnya mencoba, gagal ya gagal, begitu pikirku.



Diriku memikirkan rencana untuk menggodanya dam menetapkan waktunya, yaitu sore jam 5 lebih, biasanya jam itu kampus mulai sepi dan dosen-dosen lain sdh pulang. Diriku cuma berharap saat itu Bu Hany sdh pulang, kalau tdk rencana ini bisa tertunda atau mungkin gagal.



Keesokan harinya diriku mulai menjalankan rencanaku dgn berdebar-debar. Kupakai pakaianku yg seksi berupa sebuah baju tanpa lengan berwarna biru dipadu dgn rok putih menggantung beberapa senti diatas lutut, gilanya adalah dibalik semua itu diriku tdk memakai bra maupun celana dlm.



Tegang jg rasanya baru pertama kalinya diriku keluar rumah tanpa pakaian dlm sama sekali, seperti ada perasaan aneh mengalir dlm diriku. Birahiku naik membayangkan yg tdk-tdk, terlebih hembusan AC di mobil semakin membuatku bergairah, udara dingin berhembus menggelikitik kemaluanku yg tdk tertutup apa-apa.



Karena agak macet diriku baru tiba di kampus jam setengah enam, kuharap Pak Agus masih di kantornya. Kampus sdh sepi saat itu karena saat menjelang ujian banyak kelas sdh libur, kalaupun masuk paling cuma untuk pemantapan atau kuis saja. Diriku naik lift ke tingkat tiga.



Seorang karyawan dan dua mahasiswa yg selift dgnku mencuri-curi pandang ke arahku, suatu hal yg biasa kualami karena diriku sering berpakaian seksi cuma kali ini bedanya diriku tdk pakai apa-apa di baliknya.


Entah bagaimana reaksi mereka kalau tahu ada seorang gadis di tengah mereka tdk berpakaian dlm, untungnya pakaianku tdk terlalu ketat sehingga lekukan tubuhku tdk terjiplak.
Akupun sampai ke ruang beliau di sebelah lab. bahasa dan kulihat lampunya masih nyala. Kuharap Bu Hany sdh pulang kalau tdk sia-sialah semuanya. Jantungku berdetak lebih kencang saat kuketuk pintunya.



“Masuk !” sahut suara dari dlm

“Selamat sore Pak !”

“Oh, kamu Jeni yg kemarin, ada apa lagi nih ?” katanya sambil memutar kursinya yg menghadap komputer ke arahku.

“Itu…Pak mau membicarakan masalah yg kemarin lagi, apa masih ada keringanan buat sy”

“Waduh…kan bapak udah bilang dari kemarin bahwa tanpa surat opname atau ijin khusus, kamu tetap dihitung absen, disini aturannya memang begitu, harap anda maklum”

“Jadi sdh tdk ada tawar-menawar lagi Pak ?”

“Maaf dik, bapak tdk bisa membantumu dlm hal ini”

“Begini saja Pak, sy punya penawaran terakhir untuk bapak, sy harap bisa menebus absen sy yg satu itu, bagaimana Pak ?”

“Penawaran…penawaran, memangnya pasar pakai tawar-menawar segala” katanya dgn agak jengkel karena diriku terus ngotot.



Tanpa pikir panjang lagi diriku langsung menutup pintu dan menguncinya, lalu berjalan ke arahnya dan langsung duduk diatas meja tepat disampingnya dgn menyilangkan kaki. Tingkahku yg nekad ini membuatnya salah tingkah.



Selagi Pak Agus masih terbengong-bengong kuraih tangannya dan kuletakkan di betisku. “Ayolah Pak, sy percaya bapak pasti bisa nolongin sy, ini penawaran terakhir sy, masa bapak gak tertarik dgn yg satu ini” godaku sambil merundukkan badan ke arahnya sehingga Pak Agus dapat melihat belahan payudaraku melalui leher bajuku yg agak rendah.



“Dik…kamu-kamu ini….edan jg…” katanya terpatah-patah karena gugup Wajahku mendekati wajahnya dan berbisik pelan setengah mendesah :

“Sdhlah Pak, tdk usah pura-pura lagi, nikmati saja selagi bisa”



Beliau makin terperangah tanpa mengedipkan matanya ketika diriku mulai melepaskan kancing bajuku satu-persatu sampai kedua payudaraku dgn puting pink-nya dan perutku yg rata terlihat olehnya. Tanpa melepas pandangannya padaku, tangannya yg tadinya cuma memegang betisku mulai merambat naik ke paha mulusku disertai sedikit remasan.



Kuturunkan kakiku yg tersilang dan kurenggangkan pahaku agar beliau lebih leluasa mengelus pahaku. Dgn setengah berdiri beliau meraih payudaraku dgn tangan yg satunya, setelah tangannya memenuhi payudaraku Pak Agus meremasnya pelan diiringi desahan pendek dari mulutku.



“Dadamu bagus jg yah dik, kencang dan montok” pujinya Beliau lalu mendekatkan mulutnya ke arah payudaraku, sebuah jilatan menyapu telak putingku disusul dgn gigitan ringan menyebabkan benda itu mengeras dan tubuhku bergetar.



Sementara tangannya yg lain merambah lebih jauh ke dlm rokku hingga akhirnya menyentuh pangkal pahaku. Beliau berhenti sejenak ketika jari-jarinya menyentuh kemaluanku yg tdk tertutup apa-apa.


“Ya ampun dik, kamu tdk pakai dlman apa-apa ke sini !?” tanyanya terheran-heran dgn keberanianku

“Iyah pak, khusus untuk bapak…makanya bapak harus tolong sy jg” Tiba-tiba dgn bernafsu Pak Agus bentangkan lebar-lebar kedua pahaku dan menjatuhkan dirinya ke kursi kerjanya.



Matanya seperti mau copot memandangi kemaluanku yg merah merekah diantara bulu-bulu hitam yg lebat. Sungguh tak pernah terbayang olehku diriku duduk diatas meja mekakangkan kaki di hadapan dosen yg kuhormati.



Sebentar kemudian lidah Pak Agus mulai menjilati bibir kemaluanku dgn rakusnya. Lidahnya ditekan masuk ke dlm kemaluanku dgn satu jarinya mempermainkan klitorisku, tangannya yg lain dijulurkan ke atas meremasi payudaraku.



“Uhhh…!” diriku benar-benar menikmatinya, mataku terpejam sambil menggigit bibir bawah, tubuhku jg menggelinjang oleh sensasi permainan lidah beliau. Diriku mengerang pelan meremas rambutnya yg tipis, kedua paha mulusku mengapit erat kepalanya seolah tdk menginginkannya lepas.



Lidah itu bergerak semakin liar menyapu dinding-dinding kemaluanku, yg paling enak adalah ketika ujung lidahnya beradu dgn klitorisku, duhh…rasanya geli seperti mau ngompol. Butir-butir keringat mulai keluar seperti embun pada sekujur tubuhku.



Setelah membuat meqiku basah kuyup, beliau berdiri dan melepaskan diri. Pak Agus membuka celana panjang beserta celana dlmnya sehingga ‘burung’ yg daritadi sdh sesak dlm sangkarnya itu kini dapat berdiri dgn dgn tegak.



Digenggamnya benda itu dan dibawa mendekati meqiku “Bapak masukin sekarang aja yah Dik, udah ga sabar nih” “Eiit…bentar Pak, bapak kan belum ngerasain mulut sy nih, dijamin ketagihan deh” kataku sambil meraih k0ntolnya dan turun dari meja Kuturunkan badanku perlahan-lahan dgn gerakan menggoda hingga berlutut di hadapannya.



K0ntol dlm genggamanku itu kucium dan kujilat perlahan disertai sedikit kocokan. Benda itu bergetar hebat diiringi desahan pemiliknya setiap kali lidahku menyapunya. Sekarang kubuka mulutku untuk memasukkan k0ntol itu.



Hhmm….hampir sedikit lagi masuk seluruhnya tp nampaknya sdh mentok di tenggorokanku. Boleh jg k0ntolnya untuk seusia beliau, walaupun tdk seperkasa orang-orang kasar yg pernah ML dgnku, miliknya cukup kokoh dan dihiasi sedikit urat, bagian kepalanya nampak seperti cendawan berdenyut-denyut.



Dlm mulutku k0ntol itu kukulum dan kuhisap, kugerakkan lidahku memutar mengitari kepala k0ntolnya. Sesekali diriku melirik ke atas melihat ekspresi wajah beliau menikmati seponganku.
Berdasarkan pengalaman, sdh banyak cowok kelabakan dgn oral sex-ku, mereka biasa mengerang-ngerang tak karuan bila lidahku sdh beraksi pada k0ntol mereka, Pak Agus pun termasuk diantaranya.



Beliau mengelus-elus rambutku dan mengelap dahinya yg sdh bercucuran keringat dgn sapu tangan.
Namun ada sedikit gangguan di tengah kenikmatan. Terdengar suara pintu diketuk sehingga kami agak panik. Pak Agus buru-buru menaikkan kembali celananya dan meneguk air dari gelasnya. Diriku disuruhnya sembunyi di bawah meja kerjanya.



“Ya…ya…sebentar tanggung ini hampir selesai” sahutnya membalas suara ketukan Dari bawah meja diriku mendengar beliau sdh membuka pintu dan berbicara dgn seseorang yg diriku tdk tahu.



Kira-kira tiga menitan mereka berbicara, Pak Agus mengucapkan terima kasih pada orang itu dan berpesan agar jangan diganggu dgn alasan sedang lembur dan banyak pekerjaan, lalu pintu ditutup.



“Siapa tadi itu Pak, sdh aman belum ?” tanyaku setelah keluar dari kolong meja

“Tenang cuma karyawan mengantar surat ini kok, yuk terusin lagi Dik” Lalu dgn cueknya diriku melepaskan baju dan rokku yg sdh terbuka hingga telanjang bulat di hadapannya.



Diriku berjalan ke arahnya yg sedang melongo menatp ketelanjanganku, kulingkarkan lenganku di lehernya dan memeluknya. Dari tubuhnya tercium aroma khas parfum om-om. Beliau yg memangnya pendek terlihat lebih pendek lagi karena saat itu diriku mengenakan sepatu yg solnya tinggi.



Kudorong kepalanya diantara kedua gunungku, beliau pasti keenakan kuperlakukan seperti itu. Tiba-tiba diriku meringis dan mendesis karena diriku merasakan gigitan pada puting kananku, beliau dgn gemasnya menggigit dan mencupangi putingku itu, giginya digetarkan pada bulatan mungil itu dan meninggalkan jejak disekitarnya. Tangannya mengelusi punggungku menurun hingga mencengkram pantatku yg bulat dan padat.



“Hhmm…sempurna sekali tubuhmu ini dik, pasti rajin dirawat ya” pujinya sambil meremas pantatku.



Diriku hanya tersenyum kecil menanggapi pujiannya lalu kubenamkan kembali wajahnya ke payudaraku yg sebelah, beliaupun melanjutkan menyusu dari situ.
Kali ini Pak Agus menjilati seluruh permukaannya hingga basah oleh liurnya lalu diemut dan dihisap kuat-kuat. Tangannya dibawah sana jg tdk bisa diam, yg kiri meremas-remas pantat dan pahaku, yg kanan menggeraygi meqiku dan menusuk-nusukkan jarinya di sana.



Sebagai respon diriku hanya bisa mendesah dan memeluknya erat-erat, darah dlm tubuhku semakin bergolak sehingga walaupun ruangan ini ber-AC, keringatku tetap menetes-netes.
Mulutnya kini merambat naik menjilati leher jenjangku, beliau jg mengulum leherku dan mencupanginya seperti Dracula memangsa korbannya. Cupangannya cukup keras sampai meninggalkan bercak merah selama beberapa hari.



Akhirnya mulutnya bertemu dgn mulutku dimana lidah kami saling beradu dgn liar. Lucunya karena Pak Agus lebih pendek, diriku harus sedikit menunduk untuk bercumbuan denganya. Sambil berciuman tanganku meraba-raba selangkangannya yg sdh mengeras itu.
Setelah tiga menitan karena merasa pegal lidah dan susah bernafas kami melepaskan diri dari ciuman.



“Masukin aja sekarang yah Pak…sy udah gak tahan nih” pintaku sambil terus menurunkan resleting celananya.



Namun belum sempat diriku mengeluarkan k0ntolnya, Pak Agus sdh terlebih dulu mengangkat tubuhku. Wow, pendek-pendek gini kuat jg ternyata, Pak Agus masih sanggup menggendongku dgn kedua tangan lalu diturunkan diatas meja kerjanya.



Pak Agus berdiri diantara kedua belah pahaku dan membuka celananya, tangannya memegang k0ntol itu dan mengarahkannya ke meqiku. Tangan kananku meraih benda itu dan membantu menancapkannya. Perlahan-lahan batang itu melesak masuk membelah bibir meqiku hingga tertanam seluruhnya.



“Ooohhh….!” desahku dgn tubuh menegang dan mencengkram bahu Pak Agus .

“Sakit dik ?” tanyanya Diriku hanya menggeleng walaupun rasanya memang agak nyeri, tp itu cuma sebentar karena selanjutnya yg terasa hanyalah nikmat, ya nikmat yg semakin memuncak.



Diriku tdk bisa tdk mendesah setiap kali beliau menggenjotku, tp diriku jg harus menjaga volume suaraku agar tdk terdengar sampai luar, untuk itu kadang diriku harus menggigit bibir atau jari. Beliau semakin cepat memaju-mundurkan k0ntolnya, hal ini menimbulkan sensasi nikmat yg terus menjalari tubuhku.



Tubuhku terlonjak-lonjak dan tertekuk sehingga payudaraku semakin membusung ke arahnya. Kesempatan ini tdk disia-siakan beliau yg langsung melumat yg kiri dgn mulutnya dan meremas-remas yg kanan serta memilin-milin putingnya.



Tak lama kemudian diriku merasa dunia makin berputar dan tubuhku menggelinjang dgn dahsyat, diriku mendesah panjang dan melingkarkan kakiku lebih erat pada pinggangnya. Cairan bening mengucur deras dari meqiku sehingga menimbulkan bunyi kecipak setiap kali beliau menghujamkan k0ntolnya.



Beberapa detik kemudian tubuhku melemas kembali dan tergeletak di mejanya diantara tumpukan arsip-arsip dan alat tulis. Diriku hanya bisa mengambil nafas sebentar karena beliau yg masih bertenaga melanjutkan ronde berikutnya.

Tubuhku dibalikkan telungkup diatas meja dan kakiku ditarik hingga terjuntai menyentuh lantai, otomatis kini pantatku pun menungging ke arahnya.
Sambil meremas pantatku Pak Agus mendorongkan k0ntolnya itu ke meqiku.



“Uuhh…mmmppphhhh…!” desisku saat k0ntol yg keras itu membelah bibir kemaluanku. Dlm posisi seperti ini sodokannya terasa semakin keras dan dlm, badanku pun ikut tergoncang hebat, payudaraku serasa tertekan dan bergesekan di meja kerjanya.



Pak Agus menggenjotku semakin cepat, dengusan nafasnya bercampur dgn desahanku memenuhi ruangan ini. Sebisa mungkin diriku menjaga suaraku agar tdk terlalu keras, tp tetap saja sesekali diriku menjerit kalau sodokannya keras.



Mulutku mengap-mengap dan mataku menatap dgn pandangan kosong pada foto beliau dgn istrinya yg dipajang di sana. Beberapa menit kemudian Pak Agus menarik tubuh kami mundur beberapa langkah sehingga payudaraku yg tadinya menempel dimeja kini menggantung bebas. Dgn begitu tangannya bisa menggeraygi payudaraku.



Pak Agus kemudian mengajak ganti posisi, digandengnya tanganku menuju sofa. Pak Agus menjatuhkan pantatnya disana, namun Pak Agus mencegahku ketika diriku mau duduk, disuruhnya diriku berdiri di hadapannya, sehingga kemaluanku tepat di depan wajahnya.



“Bentar yah Dik, bapak bersihin dulu punyamu ini” katanya seraya menempelkan mulutnya pada kerimbunan bulu-bulu kemaluanku.

“Sslluurrpp….sshhrrp” dijilatinya kemaluanku yg basah itu, cairan orgasmeku diseruputnya dgn bernafsu.



Diriku mendesis dan meremas rambutnya sebagai respon atas tindakannya. Meqiku dihisapinya selama sepuluh menitan , setelah puas diriku disuruhnya naik ke pangkuannya dgn posisi berhadapan.
Kugenggam k0ntolnya dan kuarahkan ke lubangku, setelah rasanya pas kutekan badanku ke bawah sehingga k0ntol beliau tertancap pada meqiku.



Sedikit demi sedikit diriku merasakan ruang meqiku terisi dan dgn beberapa hentakan masuklah batang itu seluruhnya ke dlmku. 20 menit lamanya kami berpacu dlm gaya demikian berlomba-lomba mencapai puncak. Mulutnya tak henti-henti mencupangi payudaraku yg mencuat di depan wajahnya, sesekali mulutnya jg mampir di pundak dan leherku.



Akupun akhirnya tdk tahan lagi dgn memuncaknya rasa nikmat di selangkanganku, gerak naik turunku semakin cepat sampai meqiku kembali mengeluarkan cukup banyak cairan orgasme yg membasahi k0ntolnya dan daerah selangkangan kami. Semakin lama goyanganku semakin lemah, sehingga tinggal beliau saja yg masih menghentak-hentakkan tubuhku yg sdh lemas di pangkuannya.



Belakangan beliau melepaskanku jg dan menyuruh menyelesaikannya dgn mulut saja. Diriku masih lemas dan duduk bersimpuh di lantai di antara kedua kakinya, kugerakkan tangan kananku meraih k0ntolnya yg belum ejakulasi. Benda itu, jg bulu-bulunya basah sekali oleh cairanku yg masih hangat. Diriku membuka mulut dan mengulumnya. Seiring dgn tenagaku yg terkumpul kembali kocokanku pun lebih cepat.



Hingga akhirnya batang itu semakin berdenyut diiringi suara erangan parau dari mulutnya. Sperma itu menyemprot langit-langit mulutku, disusul semprotan berikutnya yg semakin mengisi mulutku, rasanya hangat dan kental dgn aromanya yg familiar dgnku.



Inilah saatnya menjajal teknik menyepongku, diriku berkonsentrasi menelan dan mengisapnya berusaha agar cairan itu tdk terbuang setetespun. Setelah perjuangan yg cukup berat akhirnya sempotannya makin mengecil dan akhirnya berhenti sama sekali.



Belum cukup puas, akupun menjilatinya sampai bersih mengkilat, perlahan-lahan benda itu melunak kembali. Pak Agus bersandar pada sofa dgn nafas terengah-engah dan mengibas-ngibaskan leher kemejanya.



Setelah merasa segar kami kembali memakai pakaian masing-masing. Pak Agus memuji permainanku dan berjanji berusaha membantuku mencari pemecahan masalah ini. Disuruhnya diriku besok datang lagi pada jam yg sama untuk mendengar keputusannya. Ternyata ketika besoknya diriku datang lagi keputusannya masih belum kuterima, malahan diriku kembali digarapnya.



Rupanya Pak Agus masih belum puas dgn pelayananku. Dan besok lusanya yg kebetulan tanggal merah diriku diajaknya ke sebuah hotel melati di daerah Tangerang. Disana diriku digarapnya setengah hari dari pagi sampai sore, bahkan sempat diriku dibuat pingsan sekali.



Luar biasa memang daya tahannya untuk seusianya walaupun dibantu oleh suplemen pria. Namun perjuanganku tidaklah sia-sia, ketika sedang berendam bersama di bathtub Pak Agus memberitahukan bahwa diriku sdh diperbolehkan ikut dlm ujian.



“Kesananya berusaha sendiri yah Dik, jangan minta yg lebih lagi, bapak sdh perjuangkan hal ini dlm rapat kemarin” katanya sambil memencet putingku

“Tenang aja Pak, sy jg tahu diri kok, yg penting sy ga mau perjuangan sy selama ini sia-sia” jawabku dgn tersenyum kecil.



Akhirnya akupun lulus dlm mata kuliah itu walaupun dgn nilai B karena UAS-nya lumayan sulit, lumayanlah daripada tdk lulus. Dan dari sini pula diriku belajar bahwa terkadang perjuangan itu perlu pengorbanan apa saja.


Demikianlah Artikel Bursa Cerita Sex: Birahi Dosenku

Sekian Blog Lendir Bursa Cerita Sex: Birahi Dosenku, Mudah-mudahan bisa membantu kalian yang sedang kesepian dan bisa menghantarkan tidur pulas hahhaha

Anda sedang membaca artikel Bursa Cerita Sex: Birahi Dosenku dan artikel ini url permalinknya adalah http://www.bursaceritasex.com/2017/04/bursa-cerita-sex-birahi-dosenku.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Tag : , , , , , , ,

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Bursa Cerita Sex: Birahi Dosenku"

Post a Comment