DISKONQQ bandarq, aduq, dominoq, bandar sakong, judi capsa Judi Bola Judi Domino Poker ModalQQ Terpercaya Meja13 adalah situs judi online game capsa susun Menangqq Agen bandar judi Adu Q Bandar DominoQQ Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Perkasa99 Situs Bandar66 Terbaik NikmatQQ Situs BandarQ Terbesar
Musimqq Bandar Sakong Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Terpercaya

Bursa Cerita Sex: PSK Special

Bursa Cerita Sex: PSK Special - Hallo Semuanya, Kali ini Bursa Cerita Sex, akan mencoba memberikan cerita dewasa Bursa Cerita Sex: PSK Special, Silahkan membaca dengan khusu biar Lendir lancar di buang hahahah...

Bursa Cerita Sex: PSK Special
Judul Cerita : Bursa Cerita Sex: PSK Special

lihat juga

Judi Bola Liga365

Bursa Cerita Sex: PSK Special

Bursa Cerita Sex: PSK Special
Bursa Cerita Sex: PSK Special

Sebut saja Sanny dia adalah kenalanku dia seorang PSK aku bisa kenal dengannya karena aku iseng iseng maen di lokalisasi tak taunya kita saling bertukar nomer telepon, saat itu aku masih kuliah dan tak menyangka kita bertemu di daerah Cideng saat sore hari, karena aku haus maka dari itu aku cari tempat café untuk memesan minum sekaligus istirahat sebentar.

Saat memesan dan aku duduk di kursi dengan dandanan yang tidak mencolok tidak ada hiasan apapun di wajahnya aku melihat wanita itu sepertinya kita pernah bertemu tapi aku lupa dimana aku duduk didepannya, saat menyeduh minuman tak lama kemudian wanita itu menyapaku.
“Baru pulang dari kampus ya mas” tanyanya dengan ramah.
“Iya mbak” jawabku
“lho kita pernah ketemu kayaknya mbak”
Dengan senyumannya dia mengelak bahwa belum pernah ketemu denganku.


Mungkin kebanyakan pelanggan jadi dia lupa tanyaku. Hehehe
Kemudian dia memberikan sebuah pertanyaan dengan nada ramahnya, tapi saat aku dengar dan rasakan dari mimik wajahnya dia mengajak menjerumus, mungkin dia sedang cari mangsa batinku.dengan wajah yang cantik tinggi 163 cm payudaranya juga besar, aku kadang melirik buah dadanya terlihat tali BH berwarna hitam.

Pertanyaan yang aku nantikan terucap dari mulut Sanny ini,
“Gak capek mas, istirahat dulu yuk Mas” ajaknya.
“Maksudnya mbak” pura pura bodohi dari pertanyaan tersebut.
“Aku juga mau pulang mbak mau istirahat di rumah saja” kataku.
Dia pun masih langsung menyerobot perkataanku tadi.
“Ah mas ini, pura pura gak tau, kita istirahat kekamar aja yuk” Mintanya.

Gila banget nih ajakannya tak pikir panjang aku langsung mengiyakan setelah mencapai kesepakatan bersama, singkat cerita kita sudah berada di dalam hotel yang bertebaran di daerah sini. Setelah kita masuk kedalam kamar aku langsung mengunci kamar dan kupeluk, kucium dia tapi dia menolaknya, berkata “Kita mandi dulu deh mas”.

Waow baru kali ini aku berfikir kok PSK tidak langsung tancep, malah menyuruh untuk mandi segala sebelum berkencan, mungkin dia ingin memberikan kesan yang berbeda dengan PSK lainnya, yaudah aku langsung buka seluruh pakaianku dan mengambil handuk kita pergi bersama ke kamar mandi.

Saat mandi aku lihat tubuh Sanny sungguh seksi aku pegang kulitnya dan aku cium bau badannya sungguh terangsang sekali, kusabuni dari punggung dan payudaranya kunyalakan kran biar air itu mengucur tubuh kita berdua mulai kusedot putingnya yang mengeras dengan tangannya dia mendorong kepalaku yang menyedot putingnya. Sabar sebentar dong mas”nanti aja . Katanya.

Ya udah aku sabuni tubuhmu yang elok ini Sanny, “terserah mas saja” tangannya Sanny yang memegang sabun juga membersihkan tubuhku dari atas hingga penisku juga dibersihkan dengan cermat Sanny tidak mengocoknya tapi benar benar untuk membersihkannya. Selama 30 menit kita mandi bersama.

Setelah selesai mandi kita mengeringkan tubuh, langsung saja aku peluk dan aku junjung diatas ranjang harum sekali tubuhmu Sanny. Aku ingin menikmati tubuhmu karena kau sudah menggoda dedekku hingga tegang mengeras.
“Ahhhh Mas sabar dulu dong gak sabaran deh” sambil senyum Sanny berkata seperti itu.
Tidak aku hiraukan perkataanya masih mempermainkan putingnya.

“Bentar dulu mas ahhh sambil memberai rambutnya sambil menelantangkan tubuhnya. Dia mengambil diodoran dan mengusapkan di dadaku dan ketiakku. Katanya biar harum saat dalam bercinta. Setelah semuanya diatasi keadaan semakin romantis dan kita menikmati, aku mengeluarkan uang untuk dia yang kuharapkan malah melebihi anganku, sungguh berbeda dengan PSK lainnya yang biasanya tidak seperti ini, Sanny mencium dengan lembut semakin lama semakin menyedot bibirku dengan nafsunya.

Kini dia mencium dan mengusap dadaku yang berbulu, kemudian terus ke bawah dan akhirnya penisku yang masih kecil diisapnya. Tak lama kemudian penisku pun membesar akibat rangsangan yang diberikan. Sungguh pandai ia memainkan mulut dan lidahnya di sekujur penisku. Setelah beberapa lama ia menghentikan aksinya dan berbaring telentang. Aku tahu ia ingin aku segera menyelesaikannya.
Kutindih dan kucium bibirnya. Tak lama kemudian dengan arahan tangannya penisku sudah menembus liang vaginanya.

Kurasakan iapun membalas dengan penuh gairah setiap serangan yang kulancarkan, namun aku tidak tahu apakah dia benar-benar menikmati atau hanya sekedar servis terhadap tamunya. Lima belas menit kemudian tubuhku sudah mengejang di atasnya. Ia tersenyum dan mengajakku membersihkan badan.

Selesai membersihkan badan, kami masih sempat ngobrol-ngobrol sebentar hal-hal mengenai dirinya. Ketika kutanya apakah namanya hanyalah nama profesi atau nama sebenarnya, ia mengeluarkan KTP-nya dan menyerahkannya padaku.
Kubaca,  Sanny Nova. Sekilas kulihat tanggal lahirnya, berarti ia sekarang dua puluh delapan, sementara aku waktu itu masih dua puluh tiga.

Karena kamar yang kami sewa menggunakan cara jam-jaman dan kulihat waktu telah habis, maka kamipun keluar dan aku segera pulang. Kesan yang timbul padaku, bahwa ia pun menyukaiku lebih dari sekedar PSK dan pelanggannya. Beberapa hari kemudian, pada suatu siang aku lewat Tanah Abang lagi. Hanya sekedar lewat, namun aku juga berharap dapat bertemu dengan Sanny lagi. Ketika berjalan dalam sebuah gang sempit, kulihat dari belakang sepertinya Sanny. Kupercepat langkahku dan kujejerkan langkahku. Kulihat dari samping ternyata memang Sanny.

Sanny ya? Masih ingat aku nggak? tanyaku setelah berjalan di sampingnya. Ia menoleh sambil menghentikan langkahnya. Menatapku dan mengingat-ingat, akhirnya, Mas kan yang minggu lalu sama aku? Namanya.. Ennggh.. katanya.Kupotong kata-katanya, Joko, sahutku.Ya, Mas Joko. Baru aku ingat, jawabnya, Mau ke mana? sambungnya.
Enggak, ini mau pulang, kebetulan lewat sini. Siang-siang kok sudah pulang? tanyaku.

Aku belum pulang mulai tadi malam. Sekarang baru bisa pulang dan mau istirahat. Aku diam dan berpikir sejenak. Melihatku kelihatan ragu dia bertanya, Mau istirahat lagi? Boleh deh, kataku mengiakannya. Dia tidak jadi pulang dan kembali kami berkencan di hotel yang sama. Namun kali ini aku ambil sewa kamar selama dua jam. Dengan perlakuan yang sama seperti kemarin ia melayaniku. Setelah kutembakkan laharku, kami sama-sama berbaring ngobrol sampai waktu habis. Ketika aku mengeluarkan dompet, ia berkata.
Nanti aja, sekarang kita ke kontrakanku yuk!

Akupun menurut saja dan mengikutinya ke rumah. Kembali kami mengobrol di kontrakannya. Ia tinggal bersama pemilik rumah, dan pemilik rumahnyapun mengerti dan mau menerima keadaannya. Ketika pulang, kembali kuambil uangku, namun ia tetap menolak dan berkata. Untuk ongkos pulang kamu saja ke Bogor!

Setelah itu kami sering bertemu. Namun tidak setiap kali bertemu kami lalu bergulat di atas ranjang. Kadang kami hanya mengobrol saja. Kalau tidak ada di hotel, kucari dia di kontrakannya. Sanny kadang masih menolak uang pemberianku, tetapi kalau aku lagi ada obyekan kecil, kupaksa dia untuk menerimanya. Dia menyatakan senang kalau ngobrol denganku. Ada yang mau mendengarkan dan mengerti sisi hitam dari jalan hidupku, katanya.

Aku sendiri mengatakan, kalau ada kesempatan untuk berhenti, maka berhentilah dari pekerjaannya dan membuka usaha atau pekerjaan yang lain. Suatu ketika aku mencarinya di hotel. Kata penjaga hotel dia sudah pulang belum lama tadi. Kususul ke rumahnya. Ia sedang mandi. Tak lama kemudian ia sudah menemuiku di ruang tamu. Ia mengenakan gaun hitam panjang dengan belahan sebelah setinggi lutut. Kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi membuat ia semakin menarik. Kupikir-pikir ia mirip dengan Yuni Shara, hanya saja kulitnya lebih gelap.

Mau kemana. Kok rapi sekali? kataku.
Kebetulan ada kamu. Anterin ke Pasar Minggu yuk. Aku mau beli gelang kaki di toko emas langgananku. Dulu aku punya, namun putus dan kujual, jawabnya. Akhirnya kami berjalan ke depan menunggu Metro Mini yang ke arah Pasar Minggu. Panas matahari terasa menyengat kulit. Setengah jam menunggu belum ada juga Metro Mini yang kami tunggu. Cuaca semakin panas.

Panas, Sanny. Kita istirahat saja dulu yuk. Entar sore aja ke Pasar Minggunya! ajakku. Ia setuju. Kamipun masuk ke dalam kamar. Kali ini dia yang memilih kamar ke penjaganya. Kamar yang di sudut, katanya. Sama aja. Emangnya apa bedanya? tanyaku.
Ia tersenyum saja. Setelah mengambil kunci maka kami masuk ke dalam kamar yang dimaksudkannya. Isi dalam kamar tidak berbeda dengan kamar lainnya. Sebuah bed standar, kipas di langit-langit, lemari dan kamar mandi. Namun ketika kulihat di dinding, maka ada cermin yang dipasang memanjang sejajar dengan arah bed.
Ooo, ini toh bedanya.. kataku.

Tidak semua kamar ada cerminnya. Aku tahu beberapa kamar yang dipasang cermin. Dulu-dulu selalu tidak pernah kebagian kamar ini.
Ia membaringkan badannya. Tidak mandi? tanyaku.
Ia mengeleng, Tidak, aku kan baru saja mandi. Kamu saja mandi yang bersih! Aku mandi dengan cepat dan yang penting kusabuni meriamku sampai bersih. Kulihat sudah mulai membesar tidak sabar untuk menembakkan pelurunya.

Selesai mandi aku keluar dari kamar mandi dengan berlilitkan handuk. Kulihat Sanny sedang berdiri dan mulai membuka kancing gaunnya. Kupeluk dia dari belakang dan tanganku membantunya melepaskan kancing dan bajunya. Seperti biasanya ia mengenakan celana dan bra hitam transparan sehingga apa yang ada di baliknya terlihat membayang. Setelah bra-nya terlepas, kuremas-remas payudaranya dari bagian bawahnya. Kucium leher dan telinga kirinya, tangan kirinya terangkat dan kemudian menarik rambutku. Handukku terlepas setelah tangannya yang lain menarik ikatannya.
Kutekankan selangkanganku di atas belahan pantatnya. Penisku yang sudah mulai siaga segera terarah ke atas setelah menempel di pinggangnya.

Kulepaskan tangannya dan mulutku kemudian menyapu seluruh punggungnya. Dengan gigiku kulepas kaitan bra-nya dan dengan berjongkok kugigit ban celana dalamnya, kutarik ke bawah dan kuteruskan dengan tangan untuk melepasnya. Kupondong dan kubawa di ranjang. Aku berdiri dengan posisi menghadap ranjang dan Sanny berbaring miring, dia dengan lahap menghisap kejantananku. Dijilatinya lubang kencingku, sedang tangannya memegang dan mengocok batang penisku kemudian memijat-mijat buah zakarku.

Hhmm.. Terus Sanny. Enak.. Ohh.. Aaagak keraas Saannnnn…
Setelah beberapa menit menjilati kejantananku, aku melepaskan penisku dari mulutnya. Kubuka kakinya lebar-lebar, tercium aroma yang khas namun segar.
Mau diapain Jo?
Tenang aja, Aku juga ingin jilatin milikmu…Enggak usah Jo. Jangan.. Jang.. Ngan! Tanpa menunggu kata-kata yang akan diucapkannya lagi, aku langsung menjulurkan lidahku menuju lubang vaginanya. Dia hanya bisa merintih.  Oooh.. Ssshhtt.. Jo..
Tangannya menjambak rambutku. Lidahku mulai mengarah ke klitorisnya. Jambakannya bertambah kuat dan desahannya semakin menjadi.

Tteeruus.. Saayaanghh.. Ooohh!
Aku semakin cepat menggerakkan lidahku berputar-putar dan menjilati klitorisnya. Sesekali aku menyedotnya dengan keras. Beberapa detik kemudian kedua tangannya menekan kepalaku dengan kuat sehingga aku sedikit susah bernafas. Aku semakin kuat menjilati klitorisnya.

Kuhentikan gerakan lidahku. Kutindih tubuhnya dan wajahnya kulihat tersenyum. Sambil berciuman tangan kananku menjelajah ke selangkangannya. Dia semakin agresif menyedot bibirku. Bibirku turun ke lehernya, kujilat lehernya dan beralih ke dadanya. Kuisap putingnya dan sesekali kugigit belahan dadanya.
Ssshh.. Jo.. Ahh.. Shh…
Tangan kanannya meraih batang penisku yang sedari tadi sudah mengeras. Kurasakan nafasnya sudah mulai tak teratur. Dia meremas penis.


Demikianlah Artikel Bursa Cerita Sex: PSK Special

Sekian Blog Lendir Bursa Cerita Sex: PSK Special, Mudah-mudahan bisa membantu kalian yang sedang kesepian dan bisa menghantarkan tidur pulas hahhaha

Anda sedang membaca artikel Bursa Cerita Sex: PSK Special dan artikel ini url permalinknya adalah http://www.bursaceritasex.com/2017/02/bursa-cerita-sex-psk-special.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Tag : , , , , , , ,

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Bursa Cerita Sex: PSK Special"

Post a Comment