DISKONQQ bandarq, aduq, dominoq, bandar sakong, judi capsa Judi Bola Judi Domino Poker ModalQQ Terpercaya Meja13 adalah situs judi online game capsa susun Menangqq Agen bandar judi Adu Q Bandar DominoQQ Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Perkasa99 Situs Bandar66 Terbaik NikmatQQ Situs BandarQ Terbesar
Musimqq Bandar Sakong Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Terpercaya

Bursa Cerita Sex: Suster Polos

Bursa Cerita Sex: Suster Polos - Hallo Semuanya, Kali ini Bursa Cerita Sex, akan mencoba memberikan cerita dewasa Bursa Cerita Sex: Suster Polos, Silahkan membaca dengan khusu biar Lendir lancar di buang hahahah...

Bursa Cerita Sex: Suster Polos
Judul Cerita : Bursa Cerita Sex: Suster Polos

lihat juga

Judi Bola Liga365

Bursa Cerita Sex: Suster Polos

Bursa Cerita Sex: Suster Polos
Bursa Cerita Sex: Suster Polos

Cuaca malam itu sungguh tidak bersahabat dimana sejak jam sebelas tadi hujan gak kunjung berhenti deras sekali disertai petir yang menyambar, di depan pintu kamar periksa ada Dokter Jack, dia seorang dokter yang sedang piket terlihat dia sedang asyik membaca buku. Umurnya walau sudah memasuki kepala tiga masih nampak cakep dan gagah.



Hampir delapan tahun dia bekerja di rumah sakit ini, dia mempunyai istri yang masih muda dan sudah dikarunia dua anak yang masih lucu-lucu, karena sudah delapan tahun bekerja disini maka kesepian udah menjadi makanannya setiap hari apabila dia saat jaga terdengar suara aneh sosok bayangan tapi hal itu di buat biasa karena sudah kebal.



Dokter Jack masih terus juga membaca buku yang sengaja dia bawa dari rumah. Hening sekali suasana di sana, bunyi yang terdengar hanya bunyi rintik hujan, angin. Tak lama kemudian terdengar bunyi lain di lorong itu, sebuah suara orang melangkah, suara itu makin mendekat sehingga mengundang perhatian dokter itu.



“Siapa tuh ya, malem-malem ke sini ?” tanya dokter Jack dalam hati.



Suara langkah makin terdengar, dari tikungan lorong muncul lah sosok itu, ternyata seorang gadis cantik berpakaian perawat dan berjilbab lebar. Di luar seragamnya dia memakai jaket cardigan pink berbahan wol untuk menahan udara dingin malam itu. Suster itu ternyata berjalan ke arahnya.



“Permisi, Dok” sapanya pada Dokter Jack dengan tersenyum manis.

“Malam Sus, lagi ngapain nih malem-malem ke sini” balas Dokter Jack.

“Ohh…hehe…anu Dok abis jaga malam sih, tapi belum bisa tidur, makannya sekalian mau keliling-keliling dulu”



Dokter Jack bingung sebab tidak tahu kalau suster itu juga jaga. Maka Jack bertanya, “Oh iya kok saya rasanya baru pernah liat Suster disini yah ?” tanya Jack.



“Iya Dok, saya baru pagi tadi sampai disini, pindahan dari rumah sakit *****” jawabnya, “jadi sekalian mau ngenal keadaan disini juga

“Oo…pantes saya baru liat, baru toh” kata Dokter Jack.

“Emang Dokter kira siapa ?” tanyanya lagi sambil menjatuhkan pantatnya pada bangku panjang dan duduk di sebelah Dokter Jack.

“Wow, hoki gua” kata pria itu dalam hati kegirangan.

“Dikirain suster ngesot yah, hahaha” timpal dokter Jack mencairkan suasana.

“Hehehe dikira suster ngesot, nggak taunya suster cantik” sambung Jack lagi tertawa untuk menghangatkan suasana.

“Kalau ternyata memang iya gimana Dok” kata gadis itu dengan suara pelan dan kepala tertunduk yang kembali membuat pria itu merasa aneh.



Tiba-tiba gadis itu menutup mulutnya dengan telapak tangan dan tertawa cekikikan.



“Hihihi… Dokter ini lucu ah, sering jaga malam kok digituin aja takut” tawanya.

“Wah-wah suster ini kayanya kebanyakan nonton film horror yah, daritadi udah dua kali bikin kita nahan napas aja” kata Dokter Jack.

“Iya nih, suster baru kok nakal ya, awas Saya laporin loh” kata Jack menyenggol tubuh samping gadis itu.



Sebentar kemudian suster itu baru menghentikan tawanya, dia masih memegang perutnya yang kegelian.



“Hihi…iya-iya maaf deh Dok, emang saya suka cerita horror sih jadi kebawa-bawa deh” katanya.

“Sus kalau di tempat gini mending jangan omong macem-macem deh, soalnya yang gitu tuh emang ada loh” sahut dakter Jack dengan wajah serius.

“Iya Dok, sory deh” katanya “eh iya nama saya Susan Puspita, panggil aja Susan, suster baru disini, maaf baru ngenalin diri…emmm Bapak dokter siapa yah?” sambil melihat ke dokter itu.

“Kalau saya Jacky, tapi biasa dipanggil Dokter Jack aja, saya yang jadi dokter jaga di sini malam” pria setengah baya itu memperkenalkan diri.

“Omong-omong Suster ini sebelumnya sudah pernah tugas di RS ini ?” tanya si dokter.

“Ya belum sih” kata Suter Susan.

“Pantas baru saya lihat, saya sudah lihat namanya dalam jadwal tapi baru inilah saya lihat orangnya. Cantik!” kata Jack sambil memandang wajah cantik yang sedang mengobrol dengannya itu.



Malam itu dokter Jack merasa beruntung sekali mendapat teman ngobrol seperti suster Susan, biasanya suster-suster lain paling hanya tersenyum padanya atau sekedar memberi salam basa-basi. Maklumlah mereka semua tahu kalau dokter Jack sudah beristri dan punya dua anak.



Mereka pun terlibat obrolan ringan, pria itu tidak lagi mempedulikan buku bacaannya dan mengalihkan perhatiannya pada suster Susan yang ayu itu. Sejak awal tadi dokter Jack sudah terpesona dengan gadis ini.



Pria normal mana yang tidak tertarik dengan gadis berkulit putih mulus berwajah kalem seperti itu, rambut hitamnya disanggul ke belakang tampak terbayang walau tertutup dengan jilbab panjang putihnya, tubuhnya yang padat dan montok itu lumayan tinggi (168 cm), pakaian perawat dengan bawahan rok panjang itu menambah pesonanya.



Suster Susan sendiri baru berusia 24 tahun dan belum menikah. Untuk gadis secantik Susan sebenarnya tidak begitu susah mendapat pasangan ditambah lagi dengan bodinya yang montok dan padat, tentu banyak lelaki yang mau dengannya.



Tapi sejauh ini belum ada pria yang cocok di hati Suster Susan. Sebagai wanita alim berjilbab dia sangat menjaga pergaulannya dengan lawan jenis. Namun malam ini dia gelisah juga melihat dokter Jack yang tampan dan gagah itu.



Sayang dia sudah beristri, keluh Suster Susan dalam hati. Namun hati kecilnya tidak dapat dibohongi bahwa dia suka pada dokter Jack itu.



Jack, si dokter, makin mendekatkan duduknya dengan gadis itu sambil sesekali mencuri pandang ke arah belahan dadanya membayang di balik baju panjang dan jilbab panjangnya.



Suasana malam yang dingin membuat nafsu pria itu mulai bangkit, apalagi Dokter Jack sudah seminggu tidak ngentot istrinya karena lagi datang bulan dan walaupun istri Jack lebih cantik dari Suster Susan, tapi dalam hal bodinya tentu saja kualitasnya kalah dengan suster muda di sebelahnya ini.



Semakin lama dokter Jack semakin berani menggoda suster muda yang alim itu dengan guyonan-guyonan nakal dan obrolan yang menjurus ke porno. Suster Susan sendiri sepertinya hanya tersipu-sipu dengan obrolan mereka yang lumayan jorok itu.



“Terus terang deh Sus, sejak Suster datang kok disini jadinya lebih hanget ya” kata Jack sambil meletakkan tangannya di lutut Suster Susan dan mengelusnya ke atas sambil menarik rok panjang suter berjilbab itu sehingga pahanya mulai sedikit tersingkap.

“Eh…jangan gitu dong Dok, mau saya gaplok yah ?!” Susan protes tapi kedua tangannya yang dilipat tetap di meja tanpa berusaha menepis tangan pria itu yang mulai kurang ajar.

“Ah, Suster masa pegang gini aja gak boleh, lagian disini kan sepi gini, dingin lagi” katanya makin berani, tangannya makin naik dan paha yang mulus itupun semakin terlihat.

“Dok saya marah nih, lepasin gak, Dokter kan sudah punya istri, saya itung sampai tiga” wajah Susan kelihatannya BT, matanya menatap tajam si dokter yang tersenyum mesum.



“Jangan marah dong Suster, mendingan kita seneng-seneng, ya?” sahut Dokter Jack, entah sejak kapan tiba-tiba saja pria tidak tau malu itu sudah di sebelahnya .



Dokter jaga itu dengan berani merangkul bahu Susan dan tangan satunya menyingkap rok suster muda itu di sisi yang lain. Suster itu tidak bergeming, tidak ada tanda-tanda penolakan walau wajahnya masih terlihat marah.



“Satu…” suster itu mulai menghitung namun orang itu malah makin kurang ajar, dan tangannya makin nakal menggerayangi paha yang indah itu,

“dua…!” suaranya makin serius.



Entah mengapa suster itu tidak langsung beranjak pergi atau berteriak saja ketika dilecehkan seperti itu. Si pria yang sudah kerasukan nafsu itu menganggapnya sandiwara untuk meninggikan harga diri sehingga dia malah semakin nafsu.



“Tig…” sebelum suster Susan menyelesaikan hitungannya dan bergerak, si dokteritu sudah lebih dulu mendekapnya dan melumat bibirnya yang tipis.



“Mmm…mmhh !” suster itu berontak dan mendorong-dorong Jack berusaha lepas dari dekapannya namun tenaganya tentu kalah darinya, belum lagi dokter Jack juga mendekapnya serta menaikkan rokknya lebih tinggi lagi. Susan merasa hembusan angin malam menerpa paha mulusnya yang telah tersingkap, juga tangan kasar dokter itu mengelusinya yang mau tak mau membuatnya terangsang.



“Aahh…jangan…mmhh !” Susan berhasil melepaskan diri dari cumbuan si dokter tapi cuma sebentar, karena ruang geraknya terbatas bibir mungil itu kembali menjadi santapan Jack.



Lalu tangan Dokter Jack mulai meremas-remas dadanya yang masih tertutup seragam suster dan jilbab lebarnya. Jack dapat merasakan kalau tetek suster alami mini masih kencang dan padat pertanda belum pernah dijamah lelaki lain – sementara tangan satunya tetap mengelus paha indahnya yang menggiurkan.



Susan terus meronta, tapi sia-sia malah pakaian bawahnya semakin tersingkap dan jilbab perawat itu nyaris copot. Dokter Jack melepaskan jaket cardigan pinknya suster Susan sehingga tinggal baju seragam perawatnya yang terlihat.



Lama-lama perlawanan suster Susan melemah, sentuhan-sentuhan pada daerah sensitifnya telah meruntuhkan pertahanannya. Birahinya bangkit dengan cepat apalagi suasananya sangat mendukung dengan hujan yang masih mengguyur dan dinginnya malam.



Ditambah lagi hati kecil suka dengan dokter Jack. Bulu kuduk Susan merinding merasakan sesuatu yang basah dan hangat di lehernya. Ternyata dokter Jack itu sedang menjilati lehernya yang jenjang dengan menyingkapkan jilbab panjang suster alim itu, lidah itu bergerak menyapu daerah itu sehingga menyebabkan tubuh Susan menggeliat menahan nikmat.



Mulut Susan yang tadinya tertutup rapat-rapat menolak lidah Jack kini mulai membuka. Lidah kasap si dokter itu langsung menyeruak masuk ke mulut suster berjilbab itu dan meraih lidahnya mengajaknya beradu lidah.



Susan pun menanggapinya, lidahnya mulai saling jilat dengan lidah pria itu, liur mereka saling tertukar. Sementara Dokter Jack mulai melucuti kancing bajunya dari atas dan sekaligus mencopot jilbab suster Susan.



Tangan perkasa dokter itu menyusup ke dalam cup branya, begitu menemukan putingnya benar-benar masih kencang dan padat, belum terjamah lelaki lain lalu langsung dimain-mainkannya benda itu dengan gemasnya.



Di tengah ketidak-berdayaannya melawan dokter brengsek itu, Susan semakin pasrah membiarkan tubuhnya dijarah. Tangan doktr Jack menjelajah semakin dalam, dibelainya paha dalam gadis itu hingga menyentuh selangkangannya yang masih tertutup celana dalam.

Sementara baju atasan Susan juga semakin melorot sehingga terlihatlah bra biru di baliknya.



“Kita ke dalam aja biar lebih enak” kata Dokter Jack.

“Kamu emang kurang ajar yah, kita bisa dapet masalah kalau gak lepasin saya !” Susan masih memperingatkan dokter itu.

“Udahlah Sus, kurang ajar- kurang ajar, kan lu juga suka ayo !” Jack narik lengan suster itu bangkit dari kursi.

“Sus, seneng-seneng dikit napa? Dingin-dingin gini emang enaknya ditemenin cewek cantik kaya Suster” lanjut Dokter Jack.



Dokter Jack menggelandang suster alim itu ke ruang periksa pasien tempat mereka berjaga. Susan disuruh naik ke sebuah ranjang periksa yang biasa dipakai untuk memeriksa pasien. Selanjutnya pria itu langsung menggerayangi tubuh Susan yang terduduk di ranjang.



Jack menarik lepas celana dalam gadis alim itu hingga terlepas, celana itu juga berwarna biru, satu stel dengan branya. Kemudian ia berlutut di lantai, ditatapnya kemaluan suster alim itu yang ditumbuhi bulu-bulu yang lebat, bulu itu agaknya rajin dirawat karena bagian tepiannya terlihat rapi sehingga tidak lebat kemana-mana.



Susan dapat merasakan panasnya nafas pria itu di daerah sensitifnya. Dokter Jack mempreteli kancing baju atasnya yang tersisa, lalu bra itu disingkapnya ke atas. Kini terlihatlah payudara suster Susan yang berukuran sedang sebesar bakpao dengan putingnya berwarna coklat.



“Uuuhh…Dok!” desah Susana ketika lidah Dokter Jack menelusuri gundukan buah dadanya. Lidah itu bergerak liar menjilati seluruh payudara yang kencang dan padat itu tanpa ada yang terlewat, setelah basah semua, dikenyotnya daging kenyal itu, puting mungil itu digigitinya dengan gemas.



“Aahh !” tubuh Susan tiba-tiba tersentak dan mendesah lebih panjang ketika dirasakannya lidah panas Jack mulai menyapu bibir vaginanya lalu menyusup masuk ke dalam. Maklum Jack sudah pengalaman merangsang wanita.



Susan sebagai gadis alim sebenarnya jijik melakukan hal ini, tapi rupanya libidonya membuatnya melupakan perasaan itu sejenak. Mulut Dokter Jack kini merambat ke atas menciumi bibirnya, sambil tangannya tetap menggerayangi payudaranya.



Kemudian dokter itu kembali menghisap memek suster ini, si dokter makin membenamkan wajahnya di selangkangan Susan, lidahnya masuk makin dalam mengais-ngais liang kenikmatan suster muda itu menyebabkan Susan menggelinjang dan mengapitkan kedua paha mulusnya ke kepalanya Dokter Jack.



“Nah, sekarang tinggal kita mulai Sus” kata Dokter Jack membuka pakaiannya.

“pokoknya malam ini Saya bakal muasin Suster hehehe!”



Susan tertegun melihat pria gagah itu sudah telanjang bulat di hadapannya, tubuhnya terbilang kekar, penisnya yang sudah menegang itu lumayan besar juga dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat.



Dia naik ke ranjang ke atas tubuh gadis alim itu, wajah mereka saling bertatapan dalam jarak dekat. Kali ini tanpa penghalang sebab jilbab panjang suster alim itu sudah dicopot dokter Jack. Dokter Jack begitu mengagumi wajah cantik Susan, dengan bibir tipis yang merah merekah, hidung bangir, dan sepasang mata indah yang nampak sayu karena sedang menahan nafsu.



“Dok, apa ga pamali main di tempat ginian ?” tanya Susan.

“Ahh…iya sih tapi masabodo lah, yang penting kita seneng-seneng dulu hehehe” habis berkata dia langsung melumat bibir gadis itu.



Mereka berciuman dengan penuh gairah, Susan yang sudah tersangsang berat itu melingkarkan tangannya memeluk tubuh Dokter Jack.



Ia masih memakai seragam susternya yang sudah terbuka dan tersingkap di mana-mana, bagian roknya saja sudah terangkat hingga pinggang sehingga kedua belah pahanya yang jenjang dan mulus sudah tidak tertutup apapun.



Dokter Jack sudah seminggu lamanya tidak menikmati kehangatan tubuh wanita sebab istrinya lagi datang bulan sehingga dia begitu bernafsu berciuman dan menggerayangi tubuh Susan. Mendapat kesempatan bercinta dengan gadis seperti Susan bagaikan mendapat durian runtuh.



Belum pernah dia merasakan yang sesintal dan montok ini, bahkan istrinya pun tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengannya meskipun wajahnya lebih cantik dari pada Suster Susan.



Setelah lima menitan berciuman sambil bergesekan tubuh dan meraba-raba, mereka melepas bibir mereka dengan nafas memburu.



Dokter Jack mendaratkan ciumannya kali ini ke lehernya. Kemudian mulutnya merambat turun ke payudaranya, sebelumnya dibukanya terlebih dulu pengait bra yang terletak di depan agar lebih leluasa menikmati dadanya.



“Eemmhh…aahhh…aahh !” desahnya menikmati hisapan-hisapan dokter jaga itu pada payudaranya, tangannya memeluk kepala yang rambutnya lebat dan hitam itu.



Susan merasakan kedua putingnya semakin mengeras akibat rangsangan yang terus datang sejak tadi tanpa henti. Sambil menyusu, pria itu juga mengobok-obok vaginanya, jari-jarinya masuk mengorek-ngorek liang senggamanya membuat daerah itu semakin basah oleh lendir.



“Saya masukin sekarang yah, udah ga tahan nih !” katanya di dekat telinga Susan.



Suster Susan hanya mengangguk. Dokter Jack langsung menempelkan penisnya ke mulut vagina gadis alim itu. Terdengar desahan sensual dari mulut gadis itu ketika Dokter Jack menekan penisnya ke dalam.



“Uuhh…sempit banget Sus, masih perawan ga sih ?” erang pria itu sambil terus mendorong-dorongkan penisnya.



Susan mengerang kesakitan dan mencengkram kuat lengan pria itu setiap kali penis itu terdorong masuk ke dalam memeknya yang masih rapet itu. Setelah beberapa kali tarik dorong akhirnya penis itu tertancap seluruhnya dalam vagina suster alim itu. Darah mengalir dari memek suter alim itu.



“Weleh-weleh, enaknya, legit banget Sus kalau masih perawan” komentar pria itu,

“Belum pernah ngentot ya Sus sebelumnya, kalo boleh tau ?”



Sebagai jawabannya Susan menarik wajah pria itu mendekat dan mencium bibirnya, agaknya dia tidak berniat menjawab pertanyaan itu.



Dokter Jack mulai menggoyangkan pinggulnya memompa vagina gadis itu. Desahan tertahan terdengar dari mulut Susan yang sedang berciuman. Pria itu memulai genjotan-genjotannya yang makin lama makin bertenaga.



Lumayan juga sudah seusia hampir kepala empat tapi penisnya masih sekeras ini dan sanggup membuat gadis alim itu menggelinjang. Dia mahir juga mengatur frekuensinya agar tidak terlalu cepat kehabisan tenaga.



Sambil menggenjot mulutnya juga bekerja, kadang menciumi bibir gadis itu, kadang menggelitik telinganya dengan lidah, kadang mencupangi lehernya. Suster Susan pun semakin terbuai dan menikmati persetubuhan terlarang ini.



Dia tidak menyangka pria seperti dokter itu sanggup membawanya melayang tinggi. Pria itu semakin kencang menyodokkan penisnya dan mulutnya semakin menceracau, nampaknya dia akan segera orgasme.



“Malam masih panjang Dok, jangan buru-buru, biar saya yang gerak sekarang !” kata gadis perawat itu tanpa malu-malu lagi.



Dokter Jack tersenyum mendengar permintaan suster itu. Merekapun bertukar posisi, Dokter Jack tiduran telentang dan Susan menaiki penisnya. Batang itu digenggam dan diarahkan ke vaginanya, Susan lalu menurunkan tubuhnya dan desahan terdengar dari mulutnya bersamaan dengan penis yang terbenam dalam vaginanya.



Mata Dokter Jack membeliak saat penisnya terjepit diantara dinding kemaluan Susan yang sempit. Ia mulai menggerakkan tubuhnya naik turun dengan kedua tangannya saling genggam dengan pria itu untuk menjaga keseimbangan.



“Sssshhh…oohh…yah…aahh !” Susan mengerang sambil menaik-turunkan tubuhnya dengan penuh gairah.



Tangannya meraih ujung roknya lalu ditariknya ke atas seragam yang berupa terusan itu hingga terlepas dari tubuhnya. Seragam itu dijatuhkannya di lantai sebelah ranjang itu, tidak lupa dilepaskannya pula bra yang masih menyangkut di tubuhnya sehingga kini tubuhnya yang sudah telanjang bulat terekspos dengan jelas.



Sungguh suster Susan memiliki tubuh yang sempurna, buah dadanya montok dan proporsional, perutnya rata dan kencang, pahanya juga indah dan mulus, sebuah puisi kuno melukiskannya sebagai kecantikan yang merobohkan kota dan meruntuhkan negara.



Kembali Susan dan dokter jaga itu memacu tubuhnya dalam posisi woman on top. Susan demikian liar menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Dokter Jack, dia merasakan kenikmatan saat penis itu menggesek dinding vagina dan klitorisnya.



“Ayo manis, goyang terus…ahh…enak banget !” kata Dokter Jack sambil meremasi payudara gadis itu.



Wajah Susan yang bersemu merah karena terangsang berat itu sangat menggairahkan di mata Dokter Jack sehingga dia menarik kepalanya ke bawah agar dapat mencium bibirnya.



Akhirnya Susan tidak tahan lagi, ia telah mencapai orgasmenya, mulutnya mengeluarkan desahan panjang. Dokter Jack yang juga sudah dekat puncak mempercepat hentakan pinggulnya ke atas dan meremasi payudara itu lebih kencang.



Ia merasakan cairan hangat meredam penisnya dan otot-otot vagina suster alim itu meremas-remasnya sehingga tanpa dapat ditahan lagi spermanya tertumpah di dalam dan membanjir, maklum sudah seminnggu gak dikeluarkan.



Setelah klimaksnya selesai tubuh Susan melemas dan tergolek di atas tubuh dokter itu. Susan yang baru berusia 24 tahun itu begitu kontras dengan pria di bawahnya yang lebih pantas menjadi bapaknya, yang satu begitu ranum dan segar sementara yang lain sudah agak tua.



“Asyik banget Sus, udah selama seminggu saya gak ginian loh !” ujar Dokter Jack dengan tersenyum puas.

“Gile nih malem, ga nyangka bisa dapet yang ginian” dia seperti masih belum percaya hal yang dialaminya itu.



Ketika sedang asyik memandangi Susan, tiba-tiba Dokter Jack nafsunya bangkit lagi dan minta jatah sekali lagi. Tangan Jack terus saja menggerayangi tubuh Susan, kadang diremasnya payudara atau pantatnya dengan keras sehingga memberi sensasi perih bercampur nikmat bagi gadis itu. Sedangkan Dokter Jack sering menekan-nekan kepala gadis itu sehingga membuat Susan terkadang gelagapan.



“Gila nih doketer, barbar banget sih” kata Susan dalam hati.

Walau kewalahan diperlakukan seperti ini, namun tanpa dapat disangkal Susan juga merasakan nikmat yang tak terkira. Tak lama kemudian Jack menyorongkan penisnya lalu berpindah ke mulut Susan.



Susan kini bersimpuh di depan pria yang senjatanya mengarah padanya menuntut untuk diservis olehnya. Susan menggunakan tangan dan mulutnya bergantian melayani penis itu hingga akhirnya penis Jack meledak lebih dulu ketika ia menghisapnya.



Sperma si doketr langsung memenuhi mulut gadis itu, sebagian masuk ke kerongkongannya sebagian meleleh di bibir indah itu karena banyaknya. Pria itu melenguh dan berkelejotan menikmati penisnya dihisap gadis itu.



Tak lama kemudian Dokter Jack pun menyemburkan isi penisnya dalam kocokan Susan, cairan itu mengenai wajah samping dan sebagian rambutnya. Tubuh Susan pun tak ayal lagi penuh dengan keringat dan sperma yang berceceran.



“Sus hebat banget, sepongannya dahsyat, saya jadi kesengsem loh” puji Dokter Jack ketika beristirahat memulihkan tenaga.



“Sering-sering main sini yah Sus, saya kalau malem kan sering kesepian hehehe” goda Dokter Jack.



Susan tersenyum dengan hanya melihat pantulan di cermin, katanya,



“Kenapa nggak, saya puas banget malem ini, mulai sekarang saya pasti sering mendatangi dokter”



Jam telah menunjukkan pukul setengah dua kurang, berarti mereka telah bermain cinta selama hampir satu setengah jam. Susan pun berpamitan setelah memakai cardigan pinknya dan memakai kembali jilbab putih panjangnya. Sebelum berpisah ia menghadiahkan sebuah ciuman di mulut. Jack membalas ciuman itu dengan bernafsu, dipeluknya tubuh padat dan montok itu sambil meremas pantatnya selama dua menitan.



“Nakal yah, ok saya masuk dulu yah !” katanya sebelum membalik badan dan berlalu.



Lelah sekali Dokter Jack setelah menguras tenaga dengan perawat alim yang cantik itu sehingga selama sisa waktu itu agak terkantuk-kantuk. Setelah pagi mereka pun pulang dan tertidur di tempat masing-masing dengan perasaan puas.



Setiap kali kalau ada jadwal piket bersama, mereka selalu ngentot. Dokter Jack bermaksud menjadikan Suster Susan yang alim berjilbab sebagai istri keduanya, oleh sebab itu dokter Jack tidak memakai alat kontrasepsi apa pun jika ngentot dengan Suster Susan.



Jack ingin wanita alim itu hamil, hingga terpaksa mau menikah dengannya sebagai istri keduanya.



Hebat Dokter Jack!



Demikianlah Artikel Bursa Cerita Sex: Suster Polos

Sekian Blog Lendir Bursa Cerita Sex: Suster Polos, Mudah-mudahan bisa membantu kalian yang sedang kesepian dan bisa menghantarkan tidur pulas hahhaha

Anda sedang membaca artikel Bursa Cerita Sex: Suster Polos dan artikel ini url permalinknya adalah http://www.bursaceritasex.com/2017/01/bursa-cerita-sex-suster-polos.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Tag : , , , , , , , ,

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Bursa Cerita Sex: Suster Polos"

Post a Comment