DISKONQQ bandarq, aduq, dominoq, bandar sakong, judi capsa Judi Bola Judi Domino Poker ModalQQ Terpercaya Meja13 adalah situs judi online game capsa susun Menangqq Agen bandar judi Adu Q Bandar DominoQQ Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Perkasa99 Situs Bandar66 Terbaik NikmatQQ Situs BandarQ Terbesar
Musimqq Bandar Sakong Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Terpercaya

Bursa Cerita Sex: Sonya Pandarmawan

Bursa Cerita Sex: Sonya Pandarmawan - Hallo Semuanya, Kali ini Bursa Cerita Sex, akan mencoba memberikan cerita dewasa Bursa Cerita Sex: Sonya Pandarmawan, Silahkan membaca dengan khusu biar Lendir lancar di buang hahahah...

Bursa Cerita Sex: Sonya Pandarmawan
Judul Cerita : Bursa Cerita Sex: Sonya Pandarmawan

lihat juga

Judi Bola Liga365

Bursa Cerita Sex: Sonya Pandarmawan

Bursa Cerita Sex: Sonya Pandarmawan
Bursa Cerita Sex: Sonya Pandarmawan

Perkenalkan, namanya Septian, biasa dipanggil Tian. Pemuda yg punya kelebihan di sekitar wajah itu memiliki daya tarik yg sangat kuat. Saking kuatnya, sampai-sampai satu sampai 2 saudara sepupu perempuannya sendiri ngantri dipacari olehnya. Benar-benar kuat sekali magnetnya. Dan untungnya dia adalah seorang laki-laki yg sangat beruntung. Dengan track record-nya, orangtuanya nyaris percaya kalau dia adalah seorang anak laki-laki yg baik. Bedanya, bagi mereka, dia adalah anak yg baik-baik. Bukan hanya sekedar tampan, seperti arti namanya.

Perkenalkan lagi. Namanya Callista. Sesuai dengan namanya, dia sangat cantik. Gadis yg punya banyak sifat baik ini punya banyak peluang untuk berteman dengan siapa saja yg dia mau. Apalagi dia punya banyak kebaikan di wajahnya. Belum lagi perangainya yg selalu tersenyum. Perangai yg terkenal tdk pernah mau terlihat sedih atau kesal oleh teman-teman di sekitarnya.

Perangai yg menyenangkan, bukan? Selain itu Callista adalah seorang artist. Ehem… maksudku adalah, seorang artist dalam artian bule. Yaitu seorang seniman. Dia adalah seorang perempuan yg gigih melakukan apapun dan rajin melakukan riset kecil-kecilan untuk bahan pamerannya sendiri. Kebetulan dia memang ingin menjadi seorang seniwati muda yg punya pameran tunggal di kotanya. Aku akui, atau iri lebih tepatnya, dia memang hebat.

Bagaimana tdk? Callista sama sekali tdk punya latar belakang kesenian apa-apa. Benar-benar melatih bakatnya lewat media bernama otodidak. Iya. O-T-O-D-I-D-A-K. Hehehe… aku ingin menekankan kata itu agar dia terkesan istimewa.

Selain Callista, aku juga ingin memperkenalkan seseorang bernama Nuria yg artinya adalah Cahaya Tuhan. Nama yg bagus dan dahsyat bukan? Percaya sajalah. Dia memang seseorang yg dahsyat. Dia adalah seorang perempuan yg berani menunjukkan pada dunia siapa dirinya. Bagaimana ambisiusnya dia. Bagaimana cantiknya dia. Dahsyat! Sampai-sampai ketika dia tahu ada seseorang yg meng-‘gali’-nya agar bisa kenal dan lebih dekat dengannya dengan harapan menjadi seorang pacar, dia berani datang langsung ke rumah si secret admirer tadi untuk menanyakan secara langsung tentang kebenarannya.

Hehehe… Dahsyat, ya?

Suatu kala Tian berkata padaku, “Hei… aku punya cerita bagus tentang seseorang. Namanya Callista. Mau aku kenalkan?”

“Mau. Anak mana? Kamu mau bawa dia ke hamparanku? Terima kasih… aku akan sangat senang sekali, Tian…” kataku.
“Seseorang yg sudah lama aku kenal. Seseorang yg aku tahu dia akan selalu ada untukku sampai kapan pun. Seseorang yg… Sudah, ah! Nanti juga kamu tahu sendiri!” jawabnya penuh tanda tanya. Seolah-olah akan memberiku sebuah kejutan.

“Oke, aku akan menunggu!” kataku, lalu kutinggalkan dia dengan wajah tersenyum.

Aku tahu benar dia sedang jatuh cinta. Aku cukup kenal banyak sikap laki-laki yg sedang jatuh cinta. Aku tdk mengatakan yg sebenarnya kepadanya bahwa aku cemburu. Melihat teman laki-lakiku jatuh cinta secara tiba-tiba. Bagaimana tdk? Dia satu-satunya teman dekat yg aku punya saat itu.

“Iya, aku tahu kamu sedang buru-buru, Tian. Tapi tdk cukup butakah kamu memperkenalkanku yg sedang berpakaian compang-camping bau bantal ini ke hadapan permaisurimu, heh?” tanyaku pada Tian, yg pagi-pagi benar mendadak menjemputku tanpa pemberitahuan di hari sebelumnya.
“Sudah ah… buat apa tanya-tanya begitu kalau kamu sendiri yg pamit sama Mama-Papa kamu untuk pergi main sama aku?” jawabnya cepat dan lagi-lagi tersenyum.

Aku diam sebentar. Memikirkan apakah jawabannya cukup masuk akal buatku. Ternyata memang masuk akal. Tapi tdk kujawab pertanyaannya itu. Aku hanya manggut-manggut saja. Jujur, semakin cemburu aku kepadanya.

“Perkenalkan… wahai kalian berdua…” kata Tian membuka perkenalan di pagi buta itu.
“Hei, aku teman Tian,” ujarku, menyodorkan telapak tangan kanan.
“Iya, aku Callista. Sudah sarapan?” tanyanya aneh, tapi manis untuk seorang yg baru berkenalan.
“Terima kasih sudah menanyakan. Tapi sayang sekali belum. Tian memaksaku ikut dengannya saat aku masih terlelap di tidur. Kamu benar-benar spesial buatnya,” ulasku cepat, dan membalas tersenyum.

Tdk ada jawaban atas pertanyaan yg bermisi tertentu itu padanya. Namun satu hal yg tdk bisa aku lupakan darinya. Callista selalu tersenyum. Ceria.

Beberapa tahun kemudian, aku berangkat ke Jakarta untuk bekerja di sana. Aku tdk terlalu mengingatnya dengan betul. Maksudku Tian. Seorang teman dekat yg sedikit banyak, astaga! Kucintai diam-diam dan cidaha (cinta dalam hati).

Oya, aku lupa dan belum cerita. Aku dan Tian sebelumnya tdk hanya sekedar menjalani hubungan pertemanan biasa saja. Tepat saat lima tahun hari jadinya dengan si Callista, diam-diam dia lupa. Walaupun sebenarnya aku tahu, aku hanya diam saja. Sengaja untuk tdk mengingatkan.

Aku ingat, hari itu dia sedang kesal-kesalnya bercerita tentang seseorang bernama Nuria kepadaku. Dia bilang hari itu, dia hanya ingin berdua saja denganku, karena dia memergoki dengan mata kepalanya sendiri: seseorang bernama Nuria, telah menyakiti hatinya!

Nuria menggandeng laki-laki lain di hadapan Tian. Ternyata diam-diam, Tian sudah resmi pacaran dengan seseorang bernama Nuria yg konon belum aku kenal sebelumnya. Dasar bego! Dia muntahkan semua cerita itu di hadapanku yg sudah terlalu dekat dengan si Callista.

Aku langsung tegang. Dan sontak kaget. Padahal aku tahu betul bagaimana Callista. Gadis itu sudah menyerahkan segala-galanya untuk Tian, Callista juga merupakan orang yg benar-benar setia. Bahkan tetap mengabdi pada seorang pemuda bernama Tian. Seorang laki-laki yg aku tahu betul bahwa dia tdklah setampan dan sebaik namanya.

Hari itu aku sedikit marah dan kesal pada Tian. Tapi aku pendam. Aku biarkan saja. Aku pikir, selama dia tdk menyakiti hatiku, aku akan biarkan dia menjelajah dan bergerilya menjadi seorang Cassanova muda.

“Sudah, ah. Aku bosan sama cerita kamu yg itu-itu saja, Tian!” seruku, memotong kalimat tdk pentingnya tentang seseorang bernama Nuria.

Jujur saja, sekalipun aku sayang dan jatuh cinta padanya, pada saat aku mengenal betul siapa dan bagaimana Callista yg sebenarnya… aku juga mulai jatuh cinta; pada kepribadiannya yg menawan itu.

Bagaimana tdk? Callista rela menerima kembali cinta Tian ketika banyak perempuan yg membenci tingkah dan kelakuan Tian setelah tiga tahun berturut-turut. Menyaksikan kisah ini, aku… seperti hamba sahaja yg dimabuk asmara.

Dan memang aku dimabuk asmara oleh Tian. Setelah Tian memberikan kado terindah untukku di hari ulang tahun Nuria. Aku tdk tahu kenapa aku tega melakukannya. Tapi pada suatu hari, Nuria diperkenalkan padaku oleh Tian dalam sebuah acara ulang tahun. Namun sebagai seorang mantan kekasih.

Aku melihat mereka berpelukan sambil menangis. Dan kemudian, aku yg tdk tahu apa-apa, digandeng dan kemudian diajak pergi oleh Tian yg usai melepaskan pelukannya dengan Nuria dengan sedikit terpaksa. Aku juga sedikit menangis. Aku merasakan bagaimana perasaan Tian. Dan kemudian, Tian memandangku. Ia menengokkan wajahku ke hadapannya dengan sepasang tangannya yg kekar, dan mengatakan padaku tegas.

“Hapus airmatamu yg meleleh itu. Aku tahu perasaan yg menunggumu. Aku tahu ini, Sonya,” bisiknya, kemudian mencium bibirku yg bergetar oleh tangis.

Aku ingin menolak, tapi dorongan dari dalam tdk dapat berbohong. Aku balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundaknya, sedang tangan Tian sendiri mulai meraba-raba pahaku dari dalam rokku yg makin terangkat hingga terlihat jelas celana dalam dan selangkanganku.

“Sonya sayang, aku ingin membuat kamu jadi milikku seutuhnya. Kamu mau kan?” bisiknya lagi, memandang mataku.
“Tentu saja, Tian… aku mau.” jawabku mesra dengan nafas mulai memburu.
“Sayang… aku akan membuat kamu untuk tdk melupakan hubungan kita dan aku mau kamu menjadi wanita pertama yg merasakan kenikmatan dariku, mau kan?” katanya lagi dengan suara lembut setengah berbisik.

Aku mengangguk manja.

Sambil berbaring bersisian, ia mengecup bibirku yg sensual sambil membuka habis bajuku. Tangannya yg cukup berpengalaman segera melepas BH-ku yg berwarna pink, hingga terlihatlah dua bukit susuku yg besar dan halus. Hal ini membuat kejantanan Tian cepat menjadi tegang.

“Wow… bagaimana kamu bisa punya yg seperti ini?” tanyanya sambil mengagumi bulatan payudaraku yg putih, besar, dan montok; sekaligus juga memandangi putingnya yg mungil lancip berwarna merah. Sejenak Tian memandanginya sambil perlahan-lahan tangannya menjamah untuk membelai serta mengusap-usap putingku yg kecil menggemaskan.

Kususupkan kepalaku di dadanya yg juga sudah telanjang.

“Honey.. jangan dilihat terus… aku kan malu!” kataku perlahan dengan nada manja.

Ia tertawa perlahan sambil memelukku dengan mesra.

“Malu sama siapa? Sama aku ya?” jawabnya tersenyum geli melihat kelakuanku.
“Iya, kamu laki-laki pertama yg melihat aku tanpa BH.” kataku lagi.

Tian mengecup lagi keningku, lalu turun ke mataku yg indah, hidungku yg bangir, dan terus turun hingga ke sudut bibirku yg sensual, merah merekah indah disertai desahan-desahan kecilku yg terdengar olehnya. Di sana Tian mempermainkan lidahnya dengan disertai sedikit gigitan-gigitan lembut.

”Ahhh…” aku menggelinjang, dan dengan tdk sabar balas mengecup bibirnya buas, sementara tanganku mulai mengusap kepalanya.

Tian pun tak tinggal diam. Dengan segera tangannya turun ke arah susuku yg menjadi kegemarannya bermain, ia meraba dan memutar-mutar putingnya yg mungil. Membuatku jadi mengerang nikmat karenanya.

Tangannya terus turun, menyibak rok miniku, dan terus berlanjut ke arah belakang tempat resletingku berada. Disana ia membukanya secara perlahan-lahan. Aku diam saja hingga Tian bisa merasakan bahwa aku sudah pasrah dengan apa yg akan ia lakukan.Tian segera menarik rokku ke bawah dan aku membantu dengan mengangkat pinggulku untuk melepaskannya.

“Tian, peluk aku…” kataku dengan suara sendu membuyarkan segala lamunannya saat memandangi tubuh telanjangku. Kembali ia memelukku. Di balik celananya, bisa kurasakan k0ntol panjang Tian melakukan pemberontakan dengan gila-gilaan.

Sambil menciumi bibir, leher, dan terus turun ke arah gundukan payudaraku, Tian melepas celana jeansnya. Ia mengecup kedua putingku yg merah muda berulang-ulang dengan lembut sampai benda mungil itu basah oleh air liurnya. Ia kemudian menurunkan kecupan ke arah pusarku, sebelum akhirnya bibirnya berhenti di atas lubang memekku yg sudah basah memerah, namun masih tertutup oleh CD.

“Sayang… aku buka ya?” kata Tian sambil mulai menarik CD-ku ke bawah melewati paha hingga lepas dari tubuhku.

Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengan merintih kecil merasakan segala sentuhannya. Tian memandangiku, kini dihadapannya tergolek gadis perawan, telanjang, dengan lubang kewanitaan yg ditumbuhi bulu-bulu halus teratur rapi nan cantik. Memekku masih tampak sangat sempit karena memang belum pernah disentuh oleh laki-laki manapun.

Tian mengecup bibir atas benda indah itu, yg dengan serta merta mengeluarkan aroma yg khas. Aku langsung menggelinjang, keluhan panjang keluar dari mulutku yg manis begitu ia melakukan itu.

“Oohh… Honneeeyyy…!” aku sudah kehilangan kata-kata untuk menyatakan kenikmatan yg baru pertama kali ini kurasakan karena umurku memang baru 17 tahun.

Tian terus menjilati belahan memekku sambil perlahan-lahan membuka pahaku yg sebelumnya menutup untuk menahan gejolak kenikmatan pada saat ia pertama kali mengecup pucuknya. Pahaku yg putih mulus mulai terbuka sedikit demi sedikit saat lidah Tian bermain-main dengan lembut. Klitorisku yg mungil tampak merekah merah muda saat dikecup dan digigit-gigit kecil olehnya.

Hal ini membuatku mulai menggoygkan pantatku yg padat dan kenyal dengan lebih gila. Kedua tanganku mencekal rambut Tian, menekankannya ke arah memekku sambil berteriak kecil menahan kenikmatan. Bibir, hidung, serta lidah Tian jadi basah semua oleh cairan memekku. Aku baru mengendurkan cengkeraman saat telah mencapai orgasme. Tian tampak menjilat dan menelan habis semua cairanku yg menetes keluar.

“Honey… sini, peluk aku.” rintihku sendu.

Tian bangun dan memelukku dengan lembut. Kulihat di mulut dan hidungnya masih tercecer cairan bening milikku. “Cup.. cup.. cup..” segera aku mengecupnya, kujilati sisa-sisa cairan yg masih ada di wajah Tian dengan penuh nafsu. Ia membalas dengan menyentuh dan mengusap-usap susuku yg putih montok, putingnya yg kecil merah ia pilin-pilin ringan.

“Honey…” desahku lembut.
“Apa, Sonya sayang?” jawabnya berbisik.
“Kamu sayang sama aku kan?” kataku lagi sambil memandang serta membelai pipinya, menyentuh bibir Tian dengan jari-jariku.
“Tentu saja… ada apa? Kok nanyanya gitu, masih ragu sama cintaku?” balasnya lembut dengan tangan tetap nakal bermain-main di atas puting susuku yg menggairahkan.
“Bukan… soalnya aku belum pernah begini,” kataku lagi sambil melirik ke arah matanya.

Tian balas memandang sambil tersenyum.

“Jangan dilihatin begitu dong… aku kan malu,” aku merajuk dan lekas menyusupkan wajah ke lehernya, kakiku yg indah kubelitkan ke pinggangnya seperti memeluk guling.

Saat itulah aku tersentak saat perutku menyentuh sesuatu yg menegang di antara celah pahanya. Secara refleks aku mencoba untuk merenggangkan tubuh, tapi dengan sigap Tian menahan dengan melingkarkan tangan di pinggangku sambil berbisik,

“Jangan dilepas, Sayang… biarkan nempel. Aku ingin kamu merasakan milik laki-laki yg menyaygimu, menyentuh kulitmu.” katanya dengan nada pasti.

Aku terhenyak dan tegang untuk sesaat, tapi dengan sabar Tian mencium keningku dan berkata menenangkan, “Kamu belum pernah melihat yg namanya k0ntol laki-laki dewasa dalam keadaan tegang kan?” tanyanya sambil menatap pasti ke arah mataku yg indah.

Aku jadi bingung harus menjawab apa. Selain rasa takut, juga ada rasa penasaran dalam diriku. Sesaat aku terdiam, sebelum Tian dengan lembut menatapku, berusaha membujukku dengan segala cintanya. Akhirnya dengan sikap pasrah aku mengangguk pelan. Kami pun melepaskan pelukan, dan dengan perlahan-lahan kutundukkan kepala untuk melihat ke arah bawah, menatap tanpa berkedip pada benda coklat panjang di pangkal paha Tian.

“Ooohhh…” teriakku kecil, begitu kaget. Serta merta aku memeluk leher Tian untuk menyembunyikan mukaku.

Tian tampak ingin tertawa melihat sikapku yg lugu itu.

“Kenapa, Sayang? Lihat saja, indah kan?” katanya menggoda.
“Nggak mau… aku malu!” jawabku tanpa melepaskan pelukan, namun perlahan tapi pasti nafasku mulai agak sedikit memburu membaygkan kejantanan Tian.

Dengan sigap ia memeluk pinggangku, kembali mendekatkan tubuh telanjang kami berdua. Akibatnya, batang k0ntol Tian yg masih tegang itu kembali menempel di antara memekku yg licin dan basah. Aku tentu kaget dan berusaha melepaskan, tetapi Tian menahan pinggangku. Merasa percuma untuk melawan, akupun diam. Bahkan perlahan-lahan ketegangan tubuhku mengendur, hanya nafasku yg terdengar semakin terengah-engah.

“Honey… aahh… geli…” desahku lirih.

Pelukan Tian di pinggangku mengendur. Sambil menatap mataku yg agak redup, ia berbisik,

“Sonya sayang… ini bagian dari perasaan cinta dan kasih sayang. Ayo lihatlah…” Ia mengambil tangan kiriku dan mengarahkan menuju ke batang kemaluannya yg masih tegang.

Aku mengikuti gerakan tangan itu sambil pelan-pelan menundukkan kepala. Tian mengusapkan tanganku ke arah batang k0ntolnya, yg segera kugenggam dengan lembut dan mesra. Bisa kurasakan nafas Tian jadi sedikit memburu akibat perbuatanku, rupanya ia mulai merasa nikmat.

Dengan sabar Tian mengajariku bagaimana cara memainkan k0ntol. Sesuai instruksinya, mulai kuurut benda itu dengan sangat lembut. Kukocok k0ntol Tian secara pelan dan berirama. Sementara tangan Tian sendiri kembali menyentuh memekku dan mulai mengelus bibir hangatnya dengan penuh rasa cinta.

Untuk beberapa saat kami terus saling merangsang seperti itu, sampai akhirnya Tian memelukku dan berbisik lirih, “Sonya sayang, aku ingin kamu merasakan kenikmatan cinta yg sesungguhnya… kamu mau kan?” ia berkata sambil menatap wajahku yg terlihat pasrah dan cantik.

“Tentu, Honey… semua akan aku berikan untukmu,” jawabku lembut setengah tersenyum.

Dengan sabar dan lembut, tanpa melepaskan pandangan ke arah mataku yg mulai setengah terpejam, Tian mulai merenggangkan kedua pahaku. Ia kemudian mengarahkan k0ntolnya yg sudah menegang dari tadi ke atas memekku. Lalu dengan lembut mengusap-usapkan ujungnya yg tumpul ke rekahan memekku sambil mengecup bibirku lembut.

”Tahan ya, aku masukkan sekarang.” bisik Tian mesra. Tangannya yg menganggur kembali menjamah bulatan payudaraku dan meremas-remasnya lembut. Di bawah, kurasakan ia mulai mendorong batang k0ntolnya secara perlahan-lahan.

“Ahhh… pelan-pelan… perih…” jeritku kecil saat kemaluan Tian masuk kira-kira setengahnya ke dalam liang memekku.

Tian yg tersentak kaget, langsung berhenti bergerak.

“Maaf, Sayang.. sedikit lagi… atau dicabut saja?” tanyanya sabar penuh rasa cinta.

Aku menggeleng.

“Jangan… pelan-pelan saja,” jawabku lirih.

Tian mengangguk.

”Tahan sebentar ya,” bisiknya mesra sambil meneruskan penetrasi.

Aku kembali mengeluh lirih,

“Honey… aaah… sakit!” Nafasku memburu, terasa liang memekku menahan batang k0ntol Tian.

Seperti ada batas yg menghalangiku. Aku tahu, itu adalah selaput daraku.

Tian terlihat bingung untuk sejenak, antara meneruskan aksinya atau menghentikannya. Ia nampak tdk tega melihatku yg merintih kesakitan. Sambil berusaha mengatur nafas, ia diam beberapa saat sambil memandang tubuhku.

“Gimana, Sayang… diteruskan?” Tian berbisik lirih.

Aku mengangguk. Dengan menahan nafas kubiarkan ia melanjutkan tusukannya. Kugigit bibirku sambil menutup mata saat batang k0ntol Tian melesak masuk merobek selaput daraku. Rasanya sungguh sakit tak terkira. Tapi aku mencoba untuk terus bertahan. K0ntol Tian terus meluncur masuk menggesek kuat dinding-dinding memekku yg sangat sensitif, dan baru berhenti saat menabrak mulut rahimku.

”Ahhh…” kami melenguh secara bersamaan.

Tian tersenyum, sementara aku meringis menahan nyeri. ”Kamu sudah nggak perawan,” kata Tian mencoba bercanda.

”Nggak apa kalau kamu yg mengambilnya,” balasku mencoba untuk ikut tersenyum.

Tian selanjutnya mulai bergerak menghentakkan pinggulnya, menyetubuhiku. Rasanya sungguh sakit, namun itu hanya awal-awal saja. Setelah aku mulai terbiasa, dan lubang memekku mulai bisa menerima kehadiran batang k0ntol Tian, kamipun mulai saling melenguh dan merintih mencari kenikmatan. Tetesan darahku mengalir pelan membasahi sprei, bercampur dengan cairan memekku yg semakin banyak keluar seiring batang k0ntol Tian yg bergerak keluar masuk semakin cepat.

Dalam waktu yg tdk begitu lama, Tian tampak mulai tak tahan. Jepitan dan kedutan lorong memekku yg masih sempit dan legit, membuat nafas Tian jadi tdk karuan lagi iramanya.

“Honey… oohh… terus… sssh…” erangannya juga terdengar semakin keras.

Ia memeluk tubuhku dengan erat saat k0ntolnya berdenyut-denyut semakin cepat. Gerakan otot memekku yg menghisap batang k0ntolnya membuat Tian mengalami orgasme hebat. Spermanya yg kental menyemprot keras di dalam liang memekku. Kuterima segala sentuhannya itu dengan memagut dan mengecup bibirnya lembut.

Beberapa saat, kami berpelukan seolah-olah tdk akan melepaskan satu sama lain. Peluh kami berdua mengalir membasahi hampir di seluruh tubuh; mulai dari punggung, leher, dada, hingga perut.

“Sayang, buka dong matanya.” kata Tian lembut sambil mengelus pipiku.

Kubuka mata bulatku yg masih berkaca-kaca, campuran antara rasa sakit dan nikmat setelah bersetubuh dengannya. Dua butir air mata tampak mengalir dari sudutnya yg tipis. “Honey, kamu sayang sama aku kan?” kataku dengan suara teredam.

“Tentu saja… aku sayang sama kamu, Sonya.” jawabnya dengan memeluk dan mengecup keningku.

Maka begitulah, hari-hari setelahnya merupakan sebuah happy ending untukku. Yg sama sekali tdk aku rencanakan. Kami makin mesra dan lengket, dan aku bahagia. Sangat bahagia.

Tapi saat ini, itu semua hanya masa lalu. Sekarang aku punya seseorang yg nyata untukku. Dengan berbekal pengalaman masa lalu, maka aku tahu siapa yg layak berdampingan denganku sampai menutup mata! Hm, kukira kamu pun mendamba pendamping yg baik dengan segunung cinta sejati, bukan?

Aku putus dengan Tian. Kabarnya setelah itu, ia mencoba mendekati lagi Callista dan Nuria. Tapi ditampik oleh keduanya.

Callista akhirnya berhasil berhubungan baik denganku, setelah tahu bagaimana Tian yg sebenarnya. Dia juga sudah bekerja di sebuah perusahaan ternama di kota kami, dan menikah dengan sahabat masa kecilnya yg rajin menghiburnya di saat Tian meninggalkannya.

Sedangkan Nuria menikah dengan calon pilihan Ibunya. Pengusaha real estate ternama di Bali. Dan kemarin berhasil ngobrol panjang lebar denganku melalui telepon, sekedar menyapa dan memberitahukan kabar gembira bahwa saat ini dia sudah dikaruniai dua orang anak yg cantik-cantik dan lucu-lucu.

Aku sadar. Aku bukan siapa-siapa. Kalau saja aku tahu dengan benar siapa Tian yg sebenarnya, tentu aku tdk akan mudah melepaskan perawanku. Satu hal yg aku sesali sampai saat ini. Tapi darinya, aku belajar dengan baik tentang semua hal. Tentang seseorang yg sama sekali tdk peduli terhadap perasaan seseorang yg tulus mencintai. Tentang bagaimana seharusnya menghargai seseorang yg tulus. Adalah sesuatu yg sebenarnya mudah untuk dilakukan, tetapi tdk dilakukan olehnya. Hingga akhirnya merugikan dirinya sendiri.

Tian meninggal di sebuah rumah sakit setelah didiagnosis terjangkit virus HIV. Dan hari ini adalah tepat seratus hari kematiannya.


Demikianlah Artikel Bursa Cerita Sex: Sonya Pandarmawan

Sekian Blog Lendir Bursa Cerita Sex: Sonya Pandarmawan, Mudah-mudahan bisa membantu kalian yang sedang kesepian dan bisa menghantarkan tidur pulas hahhaha

Anda sedang membaca artikel Bursa Cerita Sex: Sonya Pandarmawan dan artikel ini url permalinknya adalah http://www.bursaceritasex.com/2017/01/bursa-cerita-sex-sonya-pandarmawan.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Tag : , , , , , , , ,

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Bursa Cerita Sex: Sonya Pandarmawan"

Post a Comment