DISKONQQ bandarq, aduq, dominoq, bandar sakong, judi capsa Judi Bola Judi Domino Poker ModalQQ Terpercaya Meja13 adalah situs judi online game capsa susun Menangqq Agen bandar judi Adu Q Bandar DominoQQ Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Perkasa99 Situs Bandar66 Terbaik NikmatQQ Situs BandarQ Terbesar
Musimqq Bandar Sakong Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Terpercaya

Bursa Cerita Sex: Dua Tante Kesepian

Bursa Cerita Sex: Dua Tante Kesepian - Hallo Semuanya, Kali ini Bursa Cerita Sex, akan mencoba memberikan cerita dewasa Bursa Cerita Sex: Dua Tante Kesepian, Silahkan membaca dengan khusu biar Lendir lancar di buang hahahah...

Bursa Cerita Sex: Dua Tante Kesepian
Judul Cerita : Bursa Cerita Sex: Dua Tante Kesepian

lihat juga

Judi Bola Liga365

Bursa Cerita Sex: Dua Tante Kesepian

Bursa Cerita Sex: Dua Tante Kesepian
Bursa Cerita Sex: Dua Tante Kesepian

Cerita ini di mulai setelah sekolah aku disuruh jaga toko Milik Tante Vira yang sebenarnya bukan tante asliku. Dia adalah teman dari dari ibu sodaraku jauh, ribet deh kalo diceritain, aku menjaga toko itu sudah sekitar 2 minggu.

Karena toko milik Tante Vira menjual sembako, maka pembelinya pun kebanyakan ibu-ibu ataupun perempuan. Saya yang bertugas untuk mengambilkan barang-barang seperti beras, gula ya hanya bersikap cuek saja terhadap banyaknya pembeli itu.

Tante Cindy pemilik toko di sebelah tokonya Tante Vira yang sepertinya juga tipe wanita binal. Dia sering datang sore hari setiap toko akan ditutup. Dia biasanya saling omong-omong, bersenda gurau dengan Tante Vira, dan apabila telah begini tentu lama sekali selesainya. Dan seperti biasanya, aku pulang duluan ke rumah karena Tante Vira biasanya dijemput oleh suaminya atau anaknya.

Tapi suatu saat, ketika mau pulang aku teringat bahwa harus mengantarkan Indomie ke pelanggan, aku cepat-cepat balik ke toko. Dan memang toko sudah sepi, pintu pun hanya ditutup tanpa dikunci. Aku pun langsung masuk menuju tempat penyimpanan Indomie. Ternyata aku menyaksikan peristiwa yang tidak kuduga sama sekali, kulihat Tante Vira dengan posisi tetelentang di antara tumpukan karung beras sedang dioral kemaluannya oleh Bu Cindy. Tante Vira sangat menikmati dengan rintihannya yang ditahan-tahan dan tangannya memegang kepala Bu Cindy untuk dirapatkan ke selangkangannya.

Karena terkejut atas kedatanganku, maka keduanya pun berhenti dengan memperlihatkan wajah sedikit malu-malu. Tapi tidak sampai lima detik, mereka pun tersenyum dengan penuh artii

“Kamu belum pulang to Fer (Fery namaku), kebetulan lho kita bisa rame-rame, ya kan Bu Cindy..?” ucap Tante Vira sambil menarik tangan Bu Cindy ke arah kedua dadanya yang terbuka.

“Ayo sini Fer.., jangan malu, ughh, ahh..!” desah Tante Vira lagi, kali ini tangannya melambai ke arahku.

Dan aku pun sempat bingung tidak tahu harus berbuat apa, tapi karena kedua wanita dalam keadaan tanpa pakaian seperti itu memanggilku, nafsu kelelakianku bangkit walaupun aku belum pernah merasakan sebelumnya. Perlahan aku mendekati keduanya sambil melihat mereka berdua. Seperti seorang raja aku pun disambut, mereka yang tadinya telentang dan menindih kini mereka bangkit dan duduk sambil menata rambutnya masing-masing.

Hanya lima langkah aku pun sampai di hadapanya, dan dengan lihai mereka berdua langsung meremas selangkanganku.

“Fer, ini pernah masuk ke sarangnya belum..?” tanya Tante Vira manja.
“Be.., belum Tante..!” jawabku polos sambil menahan rasa geli yang begitu nikmat.
“Wah.., hebat dong belum pernah. Pertama kali langsung dapat dua lubang..!” canda Bu Cindy, sementara tangannya menarik lepas celanaku hingga aku benar-benar telanjang di hadapan mereka.

Dan sesaat kemudian aku merasakan kehangatan pada batang kemaluanku. Terdengar srup, srup ahh.

Tante Vira dan Bu Cindy seakan ingin berebut untuk menikmati batang kemaluanku yang berukuran normal-normal saja.

“Ayo Bu.., hisap yang lebih kenceng biar keluar isinya..!”
“Iya Bu.., ini kontol kok enak banget sih..?”
“Cupp.., crupp..!” kata mereka berdua saling menyahut.

Aku hanya pasrah menikmati perlakuannya dan sesekali kuusap pipi-pipi kedua Tante-Tante itu dengan nafsu juga.

Tidak sampai 10 menit, aku merasakan sesuatu kenikmatan luar biasa yang biasanya terjadi dalam mimipi, badanku menegang, mataku terpejam untuk merasakan sesuatu yang keluar dari kemaluanku. Tumpahan maniku memuncrat mengenai wajah Bu Cindy dan Tante Vira, dan dengan serta merta

Tante Vira mengalihkan lumatan dari punyaku ke wajah Bu Cindy. Dengan buas sekali mereka saling berciuman bibir, berebutan untuk menelan air kenikmatan punyaku. Aku pun berjongkok dan membuka paha Tante Vira, Tante Vira hanya menurut.

“Mau apa kau Sayang..?” desah Tante Vira.

Aku hanya diam saja dan mengarahkan wajahku ke arah selangkangannya yang berbau anyir dan tampak mengkilap karena sudah basah. Aku mencoba untuk melakukan seperti di film-film.

Kumasukkan lidahku ke dalam rongga-rongga vaginanya serta menyedot-nyedot klitorisnya yang kaku itu. Kurasakan ketika aku menyedot benda kecil Tante Vira. Tante Vira selalu menggelinjang dan mengangkat pantatnya, sehingga kadang hidungku ikut mencium benda kecil itu.

“Fer.., kamu kok pinter banget sih, terus, terus uggh.. ughh.. ahhh, ehh, aahhh..!” ceracau Tante Vira.

“Terus Fer, terus..! Beri Tantemu surga kenikmatan, ayo Fer..!” ucap Bu Cindy yang memilin dan mengemut puting susu Tante Vira.

“Terus Bu..! Fer.., aku mau muncrat! Ayo Fer.., sedot yang keras lagi..!” pinta Tante Vira.

Aku pun semakin liar memainkan vaginanya, dan dengan teriakan Tante Vira, “Aghh.., ughh..!” lidahku merasakan ada cairan kental keluar dari vagina Tante Vira. Aku cepat-cepat menangkapnya dan sedikit ragu untuk menelannya.

“Fer, sudah Fer.., Tante sudah puas nih..! Kamu gantian dengan Bu Cindy ya..!” ucapnya sambil tangannya mengusap cairannya yang keluar dari liang senggamanya.

Aku pun tidak sadar bahwa batang kemaluanku sudah bangun lagi, tegak dengan sempurna walaupun sedikit terasa ngilu.

“Bentar Fer.., kamu disini dulu ya..!” pinta Bu Cindy sambil keluar ke tempat tumpukan koran dan mengambil beberapa lembar.

Kemudian Bu Cindy masuk ke gudang lagi dengan menggelar koran yang dibawanya. Setelah kira-kira cukup, Bu Cindy menelentangkan tubuhnya dan memanggilku, “Ayo sekarang giliran saya dong Fer..!” katanya sambil tangannya meremas susunya sendiri.

Aku pun langsung mengangkanginya dan kedua tangan pun mengganti tangannya untuk meremas susu-susunya yang masih kenyal. Lembut, halus, enak rasanya memegang payudara orang dewasa.

“Fer.., masukin dong tuh burung kamu ke lubang Cindy, ayo dong Fer..!” bisiknya lembut.

Aku pun berusaha untuk mengarahkan masuk ke liangnya, tapi dasar memang masih amatir, terasa terpeleset terus.
“Ayo Cindy bantu biar nggak salah sasaran..!” ucapnya.

Dan tangannya pun memegang batang kemaluanku dengan lembut dan memberikan kocokan sebentar, dan akhirnya dibimbing masuk ke lubang kenikmatannya.

Ini pertama kali kurasakan penisku masuk ke sarangnya. Terasa hangat, lembab, nikmat dan seperti ditarik-tarik dari dalam kamaluan Bu Cindy. Secara naluri aku pun mulai menggerakkan pantatku maju mundur secara pelan dan berirama.

“Terus Fer.., masukkin lagi yang lebih dalam, ayooo, ughh..!” desah Bu Cindy.

Tangan Bu Cindy pun telah memegang pantatku dan menekan-nekan supaya doronganku lebih keras, sedangkan kakinya telah melingkar di pinggangku.

Kira-kira hanya 10 menit berlalu, Bu Cindy menjerit sambil menggaruk punggungku dengan keras, “Ooohhh.., aku ngejrot.., Fer..! Yeess.., uhhh..!”

Kemudian tubuhnya lunglai dan melepaskan kakinya yang melingkar di pinggangku. Aku pun bangkit meninggalkan Bu Cindy yang telentang dan tampak dari liang kenikmatannya sangat banyak cairan yang keluar. Kuhampiri Tante Vira yang mulai menutup pintu-pintu tokonya. Aku pun turut membantunya untuk mengemasi barang-barang.

Setelah beberapa menit menunggu jemputan, terdengar telpon berdering. Setelah kuangkat ternyata mobil yang dipakai menjemput dipakai suaminya untuk ngantar tetangga pindahan. Kemudian aku pun menawarkan untuk mengantarkan ke rumah Tante Vira dengan Impresa 95 kesayanganku.

Di dalam perjalanan, Tante banyak bercerita bahwa hubungan lesbinya dengan Bu Cindy sudah 3 tahun, karena Omku suka pulang malam (mabuk-mabukan, judi, nomor buntut, dan sebagainya) sehingga tidak puas bila dicumbu oleh Omku. Sedangkan Bu Cindy memang janda karena suaminya minggat dengan wanita lain.

Sampai di rumah Tante Vira, suasananya memang sepi karena anaknya kuliah dan Omku sedang mengantar tetangga pindah rumah. Setelah aku angkat-angkat barang ke dalam rumah, aku pun lalu pamitan mau pulang kepada Tante Vira. Aku terkejut, ternyata Tante Vira bukannya memperbolehkan aku pulang, tetapi malah menarik tanganku menuju kamar Tante Vira.

“Fer.., Tante tolong dipuasin lagi ya Yang..!” pintanya sambil memelukku dan menempelkan kedua buah dadanya ke tubuhku.

Aku pun mencium bibirnya yang terbuka dan mengulumnya dengan nafsu, demikian pula Tante Vira. Kemudian dengan dorongan, jatuhlah tubuh kami berdua di kasurnya, dan dengan bersemangat kami saling meraba, menindih, merintih. Hingga akhirnya aku melepaskan maniku ke dalam kemaluan Tante Vira.

Aku pun pamitan pulang dengan mencium bibirnya dan meremas susunya dengan lembut. Kemudian dari laci lemari diambilnya uang seratus ribuan, dan diberikan kepadaku, “Untuk rahasia kita..!” katanya.
Sampai saat ini lebih dari 2 tahun aku bekerja di toko Tante Vira, dan hubungan badanku dengan Tante Vira dan Bu Cindy masih berlangsung. Dan yang menyenangkan adalah Tanti, anak Bu Cindy mau kupacari, dan aku ingin menjadikannya sebagai istri.


Demikianlah Artikel Bursa Cerita Sex: Dua Tante Kesepian

Sekian Blog Lendir Bursa Cerita Sex: Dua Tante Kesepian, Mudah-mudahan bisa membantu kalian yang sedang kesepian dan bisa menghantarkan tidur pulas hahhaha

Anda sedang membaca artikel Bursa Cerita Sex: Dua Tante Kesepian dan artikel ini url permalinknya adalah http://www.bursaceritasex.com/2016/12/bursa-cerita-sex-dua-tante-kesepian.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Tag : , , , , , , , , , ,

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Bursa Cerita Sex: Dua Tante Kesepian"

Post a Comment